Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

FOCUS

Musim Masih panjang

Saat itu stadion akan bergemuruh oleh koor suporter yang di dadanya dipenuhi perasaan yang sama: persatuan, persaudaraan dan kebanggaan.

Penulis: muslimah | Editor: m nur huda
tribunjateng/bram
Muslimah wartawan tribunjateng.com 

Ditulis Oleh Wartawan Tribun Jateng, Muslimah

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - KAPAN kita sebagai warga negara Indonesia merasa merinding mendengar lagu kebangsaan dinyanyikan? Jawabannya adalah sesaat sebelum laga Tim Nasional akan dimainkan.

Saat itu stadion akan bergemuruh oleh koor suporter yang di dadanya dipenuhi perasaan yang sama: persatuan, persaudaraan dan kebanggaan.

Stadion menjadi saksi bahwa jiwa nasionalisme masyarakat Indonesia yang seringkali terpecah karena berbagai kepentingan sesungguhnya masih kuat. Sayangnya stadion juga kerap menjadi saksi fanatisme buta pada tim.

Lagi dan lagi kejadian seperti itu terus berulang. Dan sayangnya, kali ini berlangsung di wilayah Jawa Tengah.

Minggu (6/5) pada pertandingan Liga 3, Persitema Temananggung menjamu PSIP Pemalang di stadion Bumi Phala. Wasit dan sekaligus asisten wasit menjadi korban dalam laga tersebut.

Dari rekaman video yang beredar, kejadian itu bermula saat laga memasuki menit ke-88. Sepak pojok yang diambil oleh salah satu pemain PSIP mengarah ke gawang Persitema.

Wasit menilai, bola itu sudah melewati garis lapangan dan memutuskan untuk mengesahkan gol tersebut sehingga tim tamu unggul 2-0 atas Persitema.

Namun sayang, protes berlebihan datang dari pinggir lapangan kepada asisten wasit.

Terjadi pelemparan botol dari suporter tuan rumah dan pemukulan kepada asisten wasit hingga terkapar.

Melihat asisten wasit terkapar, wasit utama mencoba menghampirinya untuk melihat apa yang terjadi. Namun, ia juga diserang hingga memilih lari ke ruang ganti pemain.

Asisten wasit yang terjatuh akhirnya sadar dan dibantu oleh kepolisian untuk berjalan ke dalam ruang ganti pemain. Akan tetapi ia kembali menjadi korban kekerasan karena banyak oknum yang mengerubutinya.

Di level yang berbeda, rusuh sepak bola musim ini sudah terjadi beberapa kali.

Sebagai misal di Liga 1 yang baru kick off akhir Maret 2018, sudah diwarnai peristiwa mengerikan pada 15 April di laga Arema vs Persib. Rusuh suporter menyebabkan korban luka mencapai ratusan hingga petugas medis pun kewalahan.

Di luar lapangan, sehari sebelum rusuh di Malang, seorang suporter Persebaya meregang nyawa di Solo karena bentrok dengan warga. Saat itu sang suporter bersama rombongan dalam perjalanan pulang usai memberi dukungan pada kebanggaan yang dijamu PS Tira di stadion Sultan Agung.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved