Ismono Sebut Konsumen Keluhkan Taksi Bandara Yang Tidak Menggunakan Argometer
Sarana transportasi masih menjadi permasalahan akses menuju Bandara Ahmad Yani Semarang.
Penulis: rahdyan trijoko pamungkas | Editor: galih permadi
Laporan Wartawan Tribun Jateng Rahdyan Trijoko Pamungkas
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sarana transportasi masih menjadi permasalahan akses menuju Bandara Ahmad Yani Semarang.
Kepala Bidang Litbang LP2K Jateng, Ismono mengatakan permasalahan pertama adalah taksi. Selama ini masih dikuasai oleh satu armada.
"Oleh sebab itu masyarakat tidak dapat memilih kaitannya dengan armada itu sendiri," kata dia saat FGD Konektifitas Moda Angkutan lanjutan di Bandara Ahmad Yani Semarang di Hotel Dafam, Jumat (11/5/2018)
Seharusnya, kata dia, masyarakat bisa memilih armada yang lain. Sehingga masyarakat bisa lebih nyaman dengan armada taksi yang diinginkannya.
"Jadi masukan masyarakat selama ini seperti itu yakni armada taksi yang minim, dan tarifnya juga," ujarnya.
Menurutnya, selama ini tarif yang dikenakan pada taksi bandara adalah borongan. Taksi tersebut tidak memberlakukan argometer.
"Harusnya kalau taksi menggunakan argometer. Peraturannya seperti itu. Kalau borongan namannya bukan taksi melainkan sewa," jelasnya.
Dikatakanya, taksi bandara yang saat ini beroperasi menyalahi aturan. Selama ini sistem zona yang digunakan taksi bandara dinilai lebih mahal dibandingkan dengan taksi beragometer.
"Harapan dari konsumen kedepan bagaimana taksi banyak pilihan, dan tarifnya menggunakan argometer," tuturnya.
Masalah berikutnya,Ismono menyebutkan letak lokasi Bus Rapit Transit (BRT) yang jauh bandara. Hal ini menyebabkan penumpang yang ini naik BRT harus keluar dari bandara.
"Ini merupakan kendala. Masyarakat inginya begitu turun dari pesawat. Bisa naik BRT dari bandara,"ujarnya.
Ia berharap kedepan bagaimana shelter BRT dapat lebih dekat dengan bandara. Hal ini sangat memudahkan masyarakat dapat menggunakan BRT setelah dari bandara.
"Jadi masyarakat tidak perlu keluar bandara untuk mencari BRT," imbuhnya.
Pakar Transportasi Unika Soegijapranata, Joko Setijowarno bandara Ahmad Yani baru nanti akan berkonsep taksi menggunakan argometer. Hal ini merupakan perintah dari Undang-undang.
"Nanti tanggal 1 Juni 2018 taksi bandara harus beragometer. Kalau tidak melanggar Undang-undang," tuturnya.
Kemudian, di bandara baru juga terdapat pemandu moda dari Bandara Ahmad Yani. Pihaknya telah menyiapkan drop zone, dan pick up di bandara baru.
"Nanti ada pemandu moda dari bandara menuju ke Demak, Kudus, dan Rembang. Selain itu pemandu moda dari bandara, Ungaran, Salatiga. Selanjutnya pemandu moda dari bandara, Kendal hingga Pekalongan," jelasnya.
Disamping itu, kata dia, penambahan transportasibisa dilakukan menambahkan bus Trans Jateng. Sebelumnya Bus Trans Jateng hanya sampai stasiun Tawang.
"Hal ini bisa dilanjutkan hingga bandara. Ada juga nanti dari Demak, Purwodadi, Kemusuk. Kalau pemandu moda itu langsung. Kalau BRT berhenti-berhenti," jelasnya.
Menurut dia, dari konsep Trans Jateng ada empat titik. Namun yang saat ini Trans Jateng yang telah berjalan adalah Bawen-Semarang.
"Nanti ada lagi jalur yang dari Demak Semarang bisa masuk ke Bandara seadainya mau diteruskan. Karena konsep lama berhentinya di Tawang. Kalau dari Purwodadi berhentinya di Penggaron," terangnya.
Dari konsep, menurutnya opertor Trans Jateng akan diserahkan pengusaha yang ada saja. Pihaknya tidak menginginkan pengusaha baru untuk mengoperasikan Trans Jateng.
"Mereka nanti memenuhi armada. Nanti pemerintah yang akan memberikan subsidi operasional berkisar satu koridor Rp 10 miliar hingga Rp 11 Miliar pertahun," jelasnya.
Ia menuturkan interkoneksi Trans Jateng akan dimasukan ke dalam bandara baru.
Di samping itu, Pemerintah Provinsi diminta untuk dapat mengambil alih rute 32 Hotel di Kota Semarang.
"Kelihatannya Semarang tidak melirik itu. Jadi bisa diambil alih Provinsi," tukasnya.(*)