Teror Bom Surabaya
Bayu Pria yang Ramah Itu Tewas Saat Mengadang Motor Teroris
Bayu Rendra diketahui mengadang motor yang digunakan teroris untuk masuk ke dalam gereja.
TRIBUNJATENG.COM, SURABAYA - Ledakan bom di tiga gereja di Surabaya, Jatim, menyisakan kisah pilu. Adalah Aloysius Bayu Rendra Wardhana, satu korban meninggal dunia dalam serangan bom bunuh diri di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Ngagel.
Bayu Rendra adalah koordinator relawan keamanan Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB). Sesaat sebelum kejadian, Bayu Rendra diketahui mengadang motor yang digunakan teroris untuk masuk ke dalam gereja.
Saat diadang Bayu itulah teroris itu meledakkan diri. Tubuh Bayu hancur tak bersisa. Tetapi, seandainya tak diadang Bayu, teroris itu akan meledakkan diri di dalam gereja, dan akan menimbulkan banyak korban.
Selain sebagai koordinator keamanan gereja, alumnus SMA Katolik St Hendrikus Surabaya itu diketahui berprofesi sebagai fotografer. Aloysius Bayu dikenal ramah dan sangat aktif di karang taruna tempat dia tinggal, Gubeng Kertajaya 1, Surabaya.
Hal itu diungkapkan satu tetangga Bayu, Ratna. Menurut dia, Bayu dikenal sebagai sosok yang sangat baik, suka membantu tetangga, dan sangat ramah.
"Baik banget, dia aktif juga di karang taruna desa ini, kalau bantu juga gak setengah-setengah," ungkapnya.
Ratna menuturkan, Bayu selalu menyapa orang saat lewat di jalan areal desa. "Ramah juga mas, selalu nyapa kalau lewat depan sini, tadi pagi saja waktu mau berangkat ke gereja masih nyapa saya di depan sini," ucapnya, sambil menunjuk teras rumah yang ada di depannya.
Ratna berharap kejadian itu tidak menumbulkan gejolak di tingkat masyarakat, dan tidak terulang, sehingga tidak terdapat korban-korban selanjutnya.
Ayah Bayu mengaku sudah mengetahui anaknya mencegah agar tidak banyak jatuh korban bom dengan mengalangi terduga bomber yang mengendarai sepeda motor saat berusaha masuk ke halaman gereja.
"Informasinya seperti itu (mengadang terduga pengebom-Red). Saya sudah ikhlas," kata ayah Bayu, Siswanto.
Saat ditunjukkan rekaman CCTV yang beredar, Siswanto meyakini anaknya menjadi korban. Tetapi, ia masih belum banyak bicara karena menunggu jenazah anaknya. "Dari kaos serta posturnya Bayu. Saya nunggu jenazah anak saya dulu," ucapnya.
Seorang teman Bayu bernama Adi juga mengaku mengenal Bayu dari rekaman CCTV itu. Menurut dia, Bayu sempat mendorong terduga bomber itu.
"Itu memang Bayu. Terlihat dia menghadang dan sempat mendorong dan akhirnya meledak. Saya kroscek ke umat lain mantan pengurus muda mudi Katolik, dia adalah Bayu," kata Adi yang mengenal korban 5 tahun lebih.
Kisah pilu lain dialami Wenny (47), warga Jalan Barata Jaya 21. Ia menyaksikan detik-detik anaknya yang masih kecil bernama Vincencius Evan (11) tewas kena ledakan bom.
"Bu Wenny mengaku sempat menengok dan tahu sendiri ada pengendara motor menerobos satpam. Tiba-tiba bom meledak," ucap Susi, kerabat Wenny.
Susi mendapat cerita langsung dari Wenny yang masih dirawat di rumah sakit. Bersama keluarga yang lain, mereka berempat baru saja turun dari mobil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/polisi-berjaga-di-sekitar-lokasi-ledakan-di-gpps-surabaya_20180514_092316.jpg)