Waspada Gunung Merapi
Status Merapi Waspada, 375 Warga Boyolali Mengungsi
Kepala Pelaksana BPBD Boyolali, Bambang Sinung menuturkan, letusan freatik terjadi pukul 17.50 WIB terjadi selama 3 menit.
Penulis: akbar hari mukti | Editor: m nur huda
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akbar Hari Mukti
TRIBUNJATENG.COM, BOYOLALI - Letusan Freatik kembali terjadi di Gunung Merapi, Senin (21/5/2018).
Setelah terjadi pada pukul 01.25 dan pukul 09.36, letusan kembali terjadi pada pukul 18:25 dan 17.50 WIB. Hal itu membuat BPPTKG meningkatkan status gunung itu menjadi waspada mulai Senin malam.
Kepala Pelaksana BPBD Boyolali, Bambang Sinung menuturkan, letusan freatik terjadi pukul 17.50 WIB terjadi selama 3 menit.
"Hujan abu terjadi di sekitar Merapi sejauh 7 kilometer ke arah tenggara-selatan. Suara gemuruh terdengar dari Pos Babadan saat letusan. Kalau sekarang ini seismik kembali tenang," urainya, Selasa (22/5/2018).
Ia menjelaskan, peningkatan status itu membuat sejumlah orang mengungsi. Menurutnya ada 362 warga dukuh Stabelan Desa Tlogolele, Kecamatan Selo mengungsi.
Para pengungsi, lanjut Bambang, trauma erupsi 2010 silam.
Apalagi rumah para pengungsi menurutnya rata-rata berjarak 3,5 kilometer dari puncak Merapi.
"Tadi malam BPBD mengunjungi lokasi. Kita bagikan masker dan logistik. Jumlah pengungsi untuk saat ini 362 jiwa, dengan rincian, bayi Usia 0- 5 tahun sebanyak 35 jiwa, lansia 12 jiwa, remaja 41 jiwa, anak-anak 39 jiwa dan sisanya orang dewasa," urainya.
Para pengungsi ini berada di titik pengungsian Tlogolele Boyolali yang letaknya 6 km dari puncak Gunung Merapi.
Dirinya berharap masyarakat Boyolali yang berada di radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi tetap waspada dalam beraktivitas.
"Imbauan kami tetap jangan ceroboh dan waspada," urainya. (Ahm)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/warga-desa-tlogolele-selo-boyolali-jawa-tengah-mengungsi_20180522_092702.jpg)