Kamis, 16 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Diminati Jepang, Tukang Sablon Ini Ubah Sampah Plastik Jadi BBM

Tukang Sablon Ini Ubah Sampah Plastik Jadi BBM. Kini dia keliling sosialisasi cara mengolah sampah jadi bahan bakar

Editor: iswidodo
kompas.com
TUNJUKKAN BBM - Dimas Agus Wijanarko menunjukkan BBM hasil produksi dari mesin pengolah sampah plastik ciptaannya, di kantor DLH Kota Bandung, Senin (21/5). 

TRIBUNJATENG.COM - Berawal dari keprihatinan banyaknya sampah plastik, Dimas Agus Wijanarko (42), seorang tukang sablon asal Jakarta, mampu membuat mesin sederhana yang bisa mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) seperti Premium, Solar, dan Minyak Tanah.

Senin (21/5) pagi, pria kelahiran Surabaya itu memberikan workshop kepada para pegawai negeri sipil (PNS) di Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung untuk menjelaskan bagaimana cara kerja mesin kecil yang ia buat.

Secara sederhana, Dimas menuturkan, mesin yang ia buat menggunakan bahan yang mudah didapat, seperti pipa, keran, dan beberapa bagian yang terbuat dari besi dan alumunium.
Menurut dia, proses pengolahan itu menggunakan metode destilasi kering. Plastik kering yang sudah dipilah atau dicacah dimasukKan ke dalam tabung reaktor.

Kemudian, dia menambahkan, tabung ditutup rapat kemudian dipanaskan menggunakan kompor gas dengan suhu tinggi.

"Sistem kerjanya dengan pemanasan suhu yang cukup tinggi, minimal atau tanpa oksigen. Sehingga terjadi reaksi kimia dalam tabung reaktor. Menghasilkan gas dan berubah menjadi cair (bahan bakar-Red). Prosesnya sekitar 5-10 menit," jelasnya.

Idealnya, Dimas menuturkan, sebanyak 1 kilogram plastik dapat menghasilkan satu liter bahan bakar jenis Premium. Meski dengan cara kerja sederhana, kualitas bahan bakar yang dihasilkan pun punya kualitas baik.

"Kami setiap hari melakukan riset. Data setiap hari kami tulis dan akhirnya kami melakukan uji lab Sucofindo. Yang kami dapat, kandungan cetane dari Solar buatan kami 63,5 di atas Pertamina Dex yang hanya punya 54,3," ungkapnya.

Dimas berkisah, tekadnya mengolah sampah muncul dari hobinya yang senang mendaki gunung. Keresahan pun muncul saat melihat banyak sampah plastik bertebaran di kawasan pegunungan. Pada 2014 ia mencari informasi tentang tata cara mengolah sampah.

"Saya ketemu teman namanya Jalaludin Rumi. Dia yang memberi tahu informasi tentang plastik itu bisa diolah, dan saya mencoba menerapkan. Pada 2014 saya melakukan percobaan dengan teori yang diberikan Jalaludin Rumi, dan dari beberapa artikel yang saya baca akhirnya terbuatlah alat ini," tuturnya.

Bentuk komunitas

Ketekunannya membuahkan hasil. Bermodal informasi dari buku dan artikel, ia pun sukses membuat mesin pengolah sampah plastik dengan beragam ukuran. Ia kemudian membentuk komunitas pencinta lingkungan bernama Get Plastic.

"Intinya mau belajar. Semua orang bisa. Saya ingin buktikan, walaupun saya tukang sablon, tapi saya bisa (membuat mesin pengolah plastik-Red)," tuturnya.

Kejelian Dimas dalam memanfaatkan potensi sampah plastik ternyata terpantau hingga ke luar negeri. Beberapa waktu lalu, ia didatangi seorang dari pemerintah Jepang yang menawarkan kerja sama agar karyanya dapat dikembangkan di Negeri Sakura.

"Kami dikunjungi perwakilan pemerintah Jepang dan mereka sangat tertarik dengan minyak yang kami hasilkan. Indonesia memang terkenal memiliki kandungan minyak di dalam plastik yang cukup tinggi dan cukup bagus. Semua jenis plastik, LDPE dan ADPE itu tinggi sekali kandungan minyaknya, yaitu 80-85 persen, sisanya residu berupa black carbon atau mikroplastik," paparnya.

Namun, Dimas belum bisa memberi keputusan untuk menyepakati kerja sama dengan Jepang. Ia khawatir ikatan itu malah meredupkan tekad awalnya yang ingin memberi solusi masalah sampah di Indonesia.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved