Pemerintah Bisa Jual Wisata Sejarah Peningalan Kolonial Belanda di Kota Tegal
Banyak bangunan cagar budaya peninggalan masa kolonial Belanda yang terserak di Kota Tegal
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: muslimah
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Mamdukh Adi Priyanto
TRIBUNJATENG.COM,TEGAL - Banyak bangunan cagar budaya peninggalan masa kolonial Belanda yang terserak di Kota Tegal.
Ada dua kawasan yang paling banyak berdiri bangunan berasitektur art deco atau Eropa klasik, yakni di kawasan Alun Alun hingga Stasiun Kota Tegal serta kawasan Kantor Pos atau di Jalan Pemuda dan Jalan Proklamasi Kota Tegal.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menuturkan banyaknya bangunan peninggalan kolonial yang saat ini bisa dikatakan sudah menjadi bangunan cagar budaya memiliki potensi untuk menjadi daya tarik wisata di Kota Tegal.
"Kalau memang Kota Tegal itu minim wisata alam kan banyak di sini bangunan- bangunan bersejarah. Wisata tidak melulu soal alam, tapi juga bisa wisata sejarah," kata Fikri saat di Kota Tegal.
Menurutnya, meskipun Kota Tegal memiliki wilayah kecil atau sempit, potensi wisata yang ada harus dikembangkan secara maksimal.
"Setiap saya ketemu dengan orang dinas pariwisata mereka kerap mengeluhkan bahwa wisata alam di Kota Tegal sedikit. Kemudian saya bilang wisata tidak hanya soal alam, bisa yang lain," tandasnya.
Romantisme sejarah bisa dikemas dan 'dijual' menjadi daya tarik wisata yang potensial.
Apalagi, kata dia, jika wisata satu daerah dihubungkan dengan daerah lain, pasti akan ada sesuatu yang menarik pelancong untuk datang.
"Misalnya, dikemas secara perjalanan paket, wisata Guci di Kabupaten Tegal di-link-an dengan wisata yang ada di Kota Tegal. Wisata di Kota Tegal dihubungkan dengan yang ada di Brebes dan sebagainya," terang dewan dari Fraksi PKS itu.
Jejeka sejarah di Kota Tegal di antaranya terlihat di kompleks bangunan yang saat ini jadi Stasiun Tegal.
Stasiun Tegal dulu merupakan maspakai perkeretapaian Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS). Stasiun yang merupakan penghubung kota-kota yang berada di pantura pada zaman kolonial.
Kemudian, bangunan yang berada di sebelah barat Stasiun Tegal yang merupakan kantor kereta api atau dulu disebut Gedung Birao Semarang- Cheribon Sttomtram Maatschappij (SCS). Kantor Birao tersebut dibangun Belanda pada sekitar 1913.
"Karena saat itu, Kota Tegal sangat berpengaruh terhadap perkembangan daerah-daerah lain yang terletak di Pantura. Belanda ingin menjadikan Kota Tegal pusat perekonomian karena letaknya sangat strategis," kata Sejarawan Pantura, Wijanarto.
Mengacu konsep arsitektur Eropa dengan bangunan memanjang merespon lintasan matahari tropik, dari timur ke barat. Bangunan ini tampak mirip seperti Lawang Sewu di Kota Semarang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/stasiun_20180528_152615.jpg)