Sosok Ulama yang Kobarkan Perlawanan Terhadap Kolonial di Tegal Raya, Diasingkan Hingga Australia
Sosok Kiyai besar ini pun bahkan dijadikan sebuah nama jalan di Kelurahan Panggung, Tegal Timur, Kota Tegal
Penulis: Akhtur Gumilang | Editor: muslimah
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akhtur Gumilang
TRIBUNJATENG.COM, TEGAL - Berfikir, berjuang, dan melawan. Tiga kata itu mungkin belum bisa merepresentasikan sosok KH Mukhlas, seorang pemuka agama yang memulai benih-benih perlawanan terhadap penjajah Belanda dari kota bahari, Tegal Raya.
Sosok KH Mukhlas pun memang cukup terkenal di wilayah Tegal Raya.
Sosok Kiyai besar ini pun bahkan dijadikan sebuah nama jalan di Kelurahan Panggung, Tegal Timur, Kota Tegal.
Ia pun mendirikan sebuah masjid pada tahun 1922 dan kini menjadi masjid tertua kedua di Kota Tegal, yakni Masjid Panggung, tempat Mukhlas meneriakkan syiar-syiar islam dan perlawanan di Bumi Bahari.
KH Mukhlas juga dikenal sebagai ulama ahli tafsir, seorang pengusaha, bahkan Seniman di masanya.
Untuk menapaktilasi sosok multi peran dan talenta itu, maka, Anak pertama KH Mukhlas, Kolonel (Purn) Nur Kaukab menggelar diskusi yang bertempat pada Masjid Panggung, Minggu (3/6/2018) lalu.
Tak sedikit orang yang ikut menapak tilas kisah kenamaan tokoh Panggung, Kota Tegal itu.
Beberapa Sejarawan Tegal Raya pun hadir pada diskusi napak tilas itu, seperti Wijanarto dan Zaini Bisri yang juga seorang pengepul data dan fakta sejarah KH. Mukhlas.
Pada diskusi khidmat itu, Wijanarto mengambil kesempatan untuk berpendapat soal KH Mukhlas.
Namun di luar dugaan, Wijanarto berargumen bahwa sosok KH Mukhlas ternyata ada dua di Tegal Raya ini.
"Sama-sama ulama dari Tegal. Namun, KH Mukhlas yang satunya lagi bergerak di Jatinegara, Kabupaten Tegal. Jadi ada Mukhlas dari Panggung, Kota Tegal dan Jatinegara, Kabupaten Tegal," tutur Wijanarto di hadapan peserta diskusi.
Penulis buku berjudul 'Tahun 1927 dikirim ke Boven Digoel' ini mengutarakan bahwa, nama KH Mukhlas Jatinergara ini ternyata masuk pada sebuah arsip Belanda.
"Namanya disebut pada arsip Belanda berjudul, 'Laporan Residen Pekalongan yang dikirimkan ke Gubenur Jendral Hindia Belanda soal pertumbuhan komunisme di Pekalongan, sesudah terjadinya pemberontakan Karangcegak 1926'. Sosok Mukhlas Panggung tidak tercantum di laporan itu," Wijanarto bercerita.
Mukhlas bersama KH Mohammad Iskhak yang juga berjuang di Jatinegara ini tercatat di arsip Belanda sebagai pemberontak dari tanah Tegal Raya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/saat-diskusi-napak-tilas-bertempat-pada-masjid-panggung_20180607_132213.jpg)