Breaking News:

Warga Semarang Timur Keluhkan Air PDAM Tirta Moedal Tak Mengalir Beberapa Hari

Layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Semarang kembali dikeluhkan warga yang berada di wilayah timur Kota Semarang.

Penulis: m zaenal arifin | Editor: galih permadi
ANTARA
PDAM TIRTA MOEDAL di Semarang 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Semarang kembali dikeluhkan warga yang berada di wilayah timur Kota Semarang.

Warga kesulitan melakukan aktivitas karena air tidak mengalir selama beberapa hari.

Seorang warga Tlogosari, Yuli Setya Rahman (34), mengatakan, terakhir air PDAM mengalir pada Sabtu (30/6/2018) akhir pekan lalu.

Itu pun aliran air hanya kecil dan tidak lancar sebagaimana seharusnya. Tidak sampai sehari, aliran air kembali terhenti lagi.

"Air baru mengalir lagi siang ini (Selasa--red). Itu pun aliran cuma kecil dan hanya berapa jam saja," kata Yuli kepada Tribun Jateng, Selasa (3/7/2018).

Selama tiga hari tidak mengalir, Yuli bersama istrinya harus pintar menghemat air. Air satu tandon yang biasa sehari habis, harus dihemat hingga dua hari. Bahkan, ia hanya mandi sekali dalam sehari agar air bisa dipakai untuk keperluan lain.

"Untungnya begitu air habis, air mengalir lagi. Jadi bisa mandi dan kerja. Itu pun alirannya kecil, crat crit saja," keluhnya.

Kondisi tersebut juga dirasakan tetangganya warga Tlogosari. Para tetangga juga mengeluhkan aliran air PDAM yang tidak lancar dan berhari-hari terhenti. Begitu mengalir, aliran macet lagi selama beberapa hari.

Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi mengatakan, dirinya banyak menerima keluhan dari warga terkait aliran air PDAM. Dari laporan yang diterima, aliran air PDAM kembali tidak lancar sejak akhir Ramadan lalu sampai sekarang. Padahal, aliran sempat normal awal Juni lalu.

Atas kondisi tersebut, Supriyadi menilai, kondisi ini terjadi karena kekosongan kursi pimpinam PDAM meliputi Direktur Utama, Direktur Teknik dan Direktur Umum. Kekosongan tersebut dianggap sebagai penyebab berlarut-larutnya persoalan krisis air di wilayah timur Kota Semarang.

"Kami mendesak agar posisi Direktur Utama, Direktur Teknik dan Direktur Umum ini segera diisi pejabat definitif yang profesional mengurusi masalah air. Sehingga persoalan ini tidak berlarut-larut," kata Supriyadi.

Dikatakannya, posisi pimpinan tersebut saat ini memang ada orangnya. Hanya saja, statusnya sebatas pelaksana tugas (plt). Menurutnya, status plt yang diambilkan dari pejabat Pemkot Semarang membuat tidak fokus dalam menangani persoalan PDAM.

"Kalau orang profesional kan bisa intens mengurusi masalah itu. Kalau rangkap jabatan, akan sulit. Kalaupun mengalir, airnya juga keruh tidak layak konsumsi," ucapnya.

Saat ini, proses seleksi pimpinam PDAM Kota Semarang masih berjalan. Supriyadi berharap, proses tersebut bisa segera diselesaikan sehingga krisis air di wilayah timur yang disuplai dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kudu, Genuk, bisa tertangani.

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved