Kamis, 14 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Menilik Ritual Potong Rambut Gimbal di Dieng

Rahmawati (4), anak berambut gimbal, tampak berlarian bersama seorang temannya di kawasan pasar objek wisata Kawah Sikidang

Tayang:
tribun jateng/wahyu sulistiyawan
Prosesi cukur rambut gimbal di Dieng Culture Festival. 

TRIBUNJATENG.COM - Rahmawati (4), anak berambut gimbal, tampak berlarian bersama seorang temannya di kawasan pasar objek wisata Kawah Sikidang, Dieng, Banjarnegara, Sabtu (4/8) siang. Saat Tribun Jateng berusaha mendekat, anak itu terus berlarian menghindar.

Gadis cilik berpenampilan kumal itu adalah anak dari seorang pedagang di pasar tersebut. Rahma, sapaannya, tidak mengikuti ritual pemotongan rambut gimbal menjadi puncak acara Dieng Culture Festival (DCF) 2018 yang digelar di kawasan wisata dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Minggu (5/8) lalu.

"Saya sengaja tidak mengikutkan anak saya di ritual itu. Saya kasihan, masak orang masih hidup diberi kain serba putih seperti orang mati. Nanti saja kalau sudah punya uang saya gelar ruwatan sendiri," kata Ibu Rahma, Juwariah, kepada Tribun Jateng.

Ia bercerita, Rahma adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Sejak umur 1 tahun, rambut Rahma mulai ditumbuhi gimbal. Saat muncul rambut gimbal itu, anaknya mengalami demam tinggi hingga 2 minggu.

Warga Dusun Bakal Buntu, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara itu menuturkan, saat itu Rahma langsung dibawa ke dokter untuk mendapat pengobatan. Tetapi, upaya yang dilakukan tak membuahkan hasil.

"Setelah tumbuh rambut gimbal di kepalanya, panas tubuh Rahma mulai turun, kemudian dia sembuh dengan sendirinya," ujar dia.

Juwariah menyatakan, akibat tumbuhnya rambut gimbal itu, Rahma bisa merasakan seperti ada yang berat menempel di punggugngnya, mengikutinya, dan tak jarang saat demam Rahma bisa melihat makluk gaib, sehingga sering rewel dan ketakutan.

"Biasanya kalau mau tumbuh gimbal lagi badanya panas (demam-Red). Nah saat itulah dia sering melihat yang aneh-aneh, padahal saya atau orang lain tidak melihat. Katanya kan itu memang karena dia anak pilihan (murid Kiai Agung Kolodete-Red)," tuturnya.

Menurut dia, rambut gimbal yang terjadi pada Rahma merupakan turunan. Juwariah saat kecil juga mengalami hal serupa, demikian juga dengan ibunya, atau nenek Rahma yang juga pernah ditumbuhi rambul gimbal.

"Anak kedua saya juga waktu kecil rambutnya pernah gimbal. Tetapi sudah dipotong pada usia 7 tahun, dan sekarang sudah normal, sudah berkeluarga," ucapnya.

Juwariah menyatakan, ruwatan rambut gimbal bukan perkara ringan. Hal itu karena ia harus menyediakan biaya yang tidak sedikit untuk melaksanakan prosesi itu, terutama untuk memenuhi persyaratan atau ubo rampe sesuai dengan kepercayaan masyarakat adat setempat.

Selain itu, dia menambahkan, pelaksanaan ritual itu juga harus memenuhi semua keinginan sang anak yang menjalani ruwatan. Meski demikian, untuk yang satu itu dia tidak merasa khawatir.

"Kalau Rahma pernah bilang, untuk ruwatan itu ia minta nasi jagung dan tiga ikan asin. Dulu anak saya sebelumnya minta nasi putih biasa dan tiga ikan asin. Padahal kalau anak gimbal lain ada yang minta motor atau HP, karena kan dia dengar cerita-cerita kalau semua keinginannya harus dituruti," paparnya.

Kumpulkan uang

Meski demikian, Juwariah masih tetap berusaha mengumpulkan uang untuk bisa membiayai prosesi pemotongan rambut gimbal Rahma. Paling tidak, acara itu membutuhkan dana sekitar Rp 3 juta untuk memenuhi ubo rampe ritual.

Menurut dia, jumlah itu cukup besar bagi dirinya yang merupakan seorang pedagang di pasar, dengan penghasilan yang tidak menentu. Hanya saja, ia belum tahu kapan ritual itu akan dilaksanakan, karena harus mengikuti kesiapan dan keinginan si anak.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved