Jumat, 15 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Menilik Ritual Potong Rambut Gimbal di Dieng

Rahmawati (4), anak berambut gimbal, tampak berlarian bersama seorang temannya di kawasan pasar objek wisata Kawah Sikidang

Tayang:
tribun jateng/wahyu sulistiyawan
Prosesi cukur rambut gimbal di Dieng Culture Festival. 

"Biasanya sih ada bantuan dari iuran warga yang bahu-membahu menyediakan ubo rampe. Ada yang menyumbang sayuran, beras, gula, dan lain-lain. Saya juga saat ini sedikit demi sedikit mulai mengumpulkan uang untuk persiapan ruwatan," tuturnya.

Mbah Sumanto, satu pemangku adat Dieng, mengatakan, pemotongan rambut anak berambut gimbal tidak bisa dilakukan sembarangan. Harus melalui prosesi ruwatan, dengan persyaratan atau ubo rampe yang cukup banyak, dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Meski demikian, dia menambahkan, ruwatan itu tidak harus digelar dengan pesta besar. Yang penting persyaratannya dipenuhi, misalnya ingkung ayam, kembang, tumpeng sembilan jenis beraneka warna dan hiasan.

Selain itu, Mbah Sumanto mengungkapkan, pemotongan rambut gimbal itu yang penting disaksikan oleh masyarakat. Orangtua juga harus memenuhi apa yang menjadi permintaan si anak saat ritual tersebut.

"Kalau seperti yang di acara DCF itu memang gila-gilaan, ubo rampe-nya banyak dan komplit, dibawa 30 orang saja tidak cukup. Dananya besar, tetapi itu disediakan panitia. Contohnya untuk bunga saja sudah Rp 3,5 juta," terangnya.

Kalau ritual digelar secara perorangan, Mbah Sumanto menyatakan, semua kebutuhan untuk ubo rampe bisa disusutkan, yang penting komplit. "Misal untuk bunga kalau di DCF habis Rp 3,5 juta, kalau perorangan cukup Rp 50 ribu. Yang lain-lain juga bisa disusutkan," jelasnya.

Pria yang sudah sejak 2007 lalu mendapat kepercayaan memotong rambut gimbal itu berujar, pelaksanaan prosesi ritual pemotongan rambut gimbal tergantung dari kesanggupan orangtua dan kesiapan si anak.

"Kalau orangtua sanggupnya hanya menggelar selamatan kecil-kecilan di rumah yang tidak masalah. Tetapi prosesi ritual harus tetap dijalankan, agar si anak di kemudian hari bisa kembali menjadi dirinya sendiri," terangnya. (Arief Novianto)

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved