Jumat, 10 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Dolar Menguat, Harga Kedelai di Brebes Ikut Naik. Perajin Tempe pun Mulai Ketar-ketir

Pergerakan nilai tukar dolar yang terus perkasa terhadap rupiah hingga Rp 14.000 lebih mempengaruhi harga kedelai

Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: muslimah
Tribunjateng.com/Mamdukh Adi Priyanto
Dolar Menguat, Harga Kedelai di Brebes Naik Jadi Rp 7.400 Perkilogram 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Mamdukh Adi Priyanto

TRIBUNJATENG.COM,BREBES - Pergerakan nilai tukar dolar yang terus perkasa terhadap rupiah hingga Rp 14.000 lebih mempengaruhi harga kedelai.

Harga kacang kedelai ikut terkerek naik seiring penguatan kurs dolar itu.

Ketua Primer Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Primkopti) Brebes, Untung Suparwo, menuturkan harga kedelai impor merangkak naik dari hari ke hari.

"Kenaikan harga kedelai di Brebes dalam seminggu terakhir ini mencapai Rp 200 perkilogram," kata Untung, Kamis (9/8/2018).

Harga kedelai yang tadinya Rp 7.200 perkilogram pada bulan lalu, naik menjadi Rp 7.400 perkilogram.

Menurutnya, para perajin tahu dan tempe mengkhawatirkan jika kenaikan nilai dolar terhadap rupiah terus berlanjut, akan mengancam usaha mereka alias gulung tikar.

Untung menyebut meski mengalami kenaikan, produsen tempe dan tahu masih tetap mengambil keuntungan meskipun sedikit.

"Satu kilogram kedelai dapat dijadikan tempe dan tahu dengan harga antara Rp 8.000 hingga Rp 9.000. Beruntung, masih lebih murah jauh daripada harga bahan makanan lain yang mengandung protein, semisal telor," tuturnya.

Ia menyebut, jika kenaikan nilai dolar terhadap rupiah tidak terbendung sehingga harga kedelai yang diimpor dari Amerika Serikat terus naik, ia khawatir akan terjadi seperti pada 2008.

Pada tahun itu, kata dia, harga kedelai mencapai Rp 9.000 perkilogram. Sehingga harga tempe dan tahu pun dinaikan hingga Rp 11.000 untuk satu kilogram kedelai.

Namun, kenaikan harga tempe dan tahu itu tidak seiring dengan daya jual. Tempe dan tahu dengan harga itu tidak laku sehingga banyak perajin tahu dan tempe kolaps atau menghentikan usahanya.

Usaha tempe dan tahu di Brebes kebanyakan masih dikelola dengan skala kecil atau rumah tangga.

"Kami berharap pemerintah bisa menjaga kenaikan dolar terhadap rupiah agar tidak terus berlanjut. Jadi tidak memberatkan perajin tahu dan tempe," ujarnya.

Primkopti Brebes setiap bulannya menyalurkan kedelai mencapai 180 sampai 200 ton untuk jumlah sekitar 450 perajin tahun dan tempe di Brebes. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved