OPINI

Opini Kodrat: Pramuka Perekat NKRI

Opini ditulis oleh Kodrat Alamsyah, Mahasiswa UIN Walisongo, Bindep Pramuka Pesantren Hubulo 2015

Opini Kodrat: Pramuka Perekat NKRI
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Opini ditulis oleh Kodrat Alamsyah, Mahasiswa UIN Walisongo, Bindep Pramuka Pesantren Hubulo 2015 

TRIBUNJATENG.COM - Tidak ada suatu bangsa yang menjadi bangsa yang jaya, tanpa melalui cobaan maupun ujian terhadap persatuan dan kesatuan bangsa tersebut. Upaya memecah-belah persatuan bangsa Indonesia telah terjadi beberapa kali, namun semua itu berhasil diatasi. Krisis demi krisis telah datang silih berganti dalam perjalanan sejarah Indonesia, namun semua itu dapat diselesaikan.

Founding Fathers Indonesia meyakini bahwa susunan dan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila adalah pilihan yang tepat. Atas ketetapan dan pilihan tersebut, masyarakat Indonesia harus terus membangun apa yang mejadi cita-cita dan tujuan kemerdekaan bangsa Indonesia. Seperti, terus-menerus melakukan pembangunan negara agar medapatkan keadaan negara yang damai, adil dan demokratis.

Kemiskinan dan keterbelakangan harus diperangi. Tidak cukup hanya bergantung kepada pemerintah saja, melainkan semua elemen bangsa secara bersama mestinya memiliki kepedulian terhadap bangsa dan negara.

Sebagaii refleksi kesejarahan di hari peringatan kemerdekaan ke-73 tahun ini, semua masyarakat patut menyampaikan rasa terima kasih dan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada semua pejuang dan pahlawan bangsa yang telah mendharmabaktikan hidupnya, bahkan jiwa dan raganya untuk mencapai, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan.

Untuk bisa mempertahankan kedaulatan negara dari setiap gangguan dan ancaman, tidak lain harus melakukan pembangunan pertahanan negara. Bersyukurlah bahwa sepanjang sejarah berdirinya negara Indonesia, telah ada TNI yang selalu siap berada di barisan teredepan dalam mempertahankan kedaulatan negara sebagai NKRI.

TNI secara continue selalu melakukakn latihan guna memperkuat serta meningkatkan kemampuannya, baik organisasi, profesionalitas personil maupun persenjataanya. Adapun fokus perhatian pertahanan negara saat ini ─ walaupun ini bukan satu-satunya tugas TNI ─ adalah menjaga kawasan perbatasan laut dan darat, terutama pulau-pulau terluar dan terdepan.

Begitupun dengan Polri, sebagai penjaga keamanan, akan selalu menghadapi tantangan yang tidak ringan dalam mengulangi berbagai bentuk dan jenis kejahatan. Kejahatan yang harus diberantas tidak hanya yang bersifat trans-nasional, tetapi juga berbagai kejahatan konvensional yang mengganggu kententraman masyarakat, seperti pembunuhan, perjudian, pencurian dan perampokan.

Dewasa ini, permasalahan kemasyarakatan yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan mudah, atau bahkan bisa dibilang bukan sebagai masalah, tetapi malah menjadi pemicu persolan yang lebih luas. Ambil saja contoh Pilkada serentak beberapa bulan kemarin, Ada beberapa pendukung salah satu calon kepala daerah selalu melakukan tindakan anarkis, karena tidak mau yang dijagokannya dihina atau karena ketidak-puasan hasil Quick Count yang menyatakan paslon kepala daerah tersebut kalah. Akibatnya, berhasil menimbulkan kerugian kalangan masyarakat maupun pemerintah.

Tindakan anarkis ini tentu jangan sampai “menjangkiti” Pemilu serentak 2019 yang akan datang. Tepat tanggal 10 Agustus kemarin telah resmi diumumkan bahwa akan ada dua paslon yang ikut berkompetisi dalam pesta demokrasi lima tahunan ini. Meskipun hanya dua paslon, tidak menuntut kemungkinan ancaman terjadinya gesekan antarpendukung paslon akan terjadi. Oleh karena itu, gerakan pramuka merupakan salah satu “vaksin” dari penyakit ini.

Gerakan pramuka dituntut bersifat independent dan dapat bertindak sebagai benteng demi mempertahankan NKRI. Gerakan pramuka, sebagai salah satu elemen bangsa, harus membentuk anggota-anggotanya menjadi berkepribadian, berwatak dan memiliki jiwa bela negara. Dengan begitu, anggota-anggota pramuka akan menjadi pengingat bagi para pendukung paslon yang mulai memperlihatkan tindakan yang tidak seharusnnya.

Begitupun dengan melihat situasi dunia yang semakin mengglobal, maka pendidikan jiwa bela negara yang didapatkan dalam kepramukaan menjadi hal yang sangat penting. Untuk itu berbanggalah menjadi anggota pramuka. Sebab, dengan menjadi anggota dalam pramuka, maka kita akan menjadi rakyat Indonesia yang berkontribusi langsung dalam menjawab tantangan bangsa Indonesia.

Pramuka dengan Trisatya dan Dasa Darmanya, dipastikan setiap anggota pramuka akan berkomitmen terhadap ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan siap mempertahankan NKRI, serta ikut dalam pembangunan dalam rangka mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Dengan demikian, kader-kader bangsa yang berasal dari pramuka akan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan yan tidak diragukan lagi komitmennya terhadap bangsa dan negara.

Atas dasar di atas, penulis merasa para kader politik harus dikenalkan dengan nilai-nilai Satya dan Dasa Darma Pramuka agar tetap berkomitmen menjaga persatuan dan kesatuan bangasa dan negara. Pendidikan kepramukan diperlukan khususnya bagi kaum muda, sehingga bisa terhindar dari kesesatan. Dalam euforia kepramukaan saat ini, semoga para anggota pramuka dapat memeberi kontribusi yang bermakna untuk Indonesia. Selamat Hari Pramuka ke 57 dan selamat hari jadi RI ke 73. Jayalah bangsaku. (Opini ditulis oleh Kodrat Alamsyah, Mahasiswa UIN Walisongo, Bindep Pramuka Pesantren Hubulo 2015)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved