Masyarakat Lebih Terbuka Menjelang Pengeboran Sumur Kedua PLTPB di Gunung Slamet
PT Sejahtera Alam Energy (SAE) melanjutkan tahapan eksplorasi panas bumi di lereng Gunung Slamet.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: m nur huda
Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki
TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - PT Sejahtera Alam Energy (SAE) melanjutkan tahapan eksplorasi panas bumi di lereng Gunung Slamet.
Pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Gunung Slamet itu kini bersiap melakukan pengeboran di sumur kedua atau Well Pad F dalam waktu dekat ini.
Sebelumnya, pada sumur pertama, Well Pad H di ketinggian 1.900 meter di atas permukaan laut (mdpl), sampai kedalaman mencapai 3.477 meter, PT SAE tidak menemukan uap panas yang bisa dikonversi menjadi energi listrik.
Kondisi ini disikapi beragam oleh masyarakat. Sebagian warga yang tidak setuju dengan proyek itu justru lega mendengar kabar tersebut.
Di antara mereka bahkan dari awal menuntut agar proyek itu dihentikan lantaran telah terbukti berdampak buruk bagi lingkungan.
Sembari dikejar waktu, PT SAE kemudian melanjutkan pekerjaan di Well Pad F pada ketinggian 1.400 mdpl.
Direktur PT SAE Bregas Rochadi menyebut Well Pad F yang akan dibor ini adalah sasaran utama dalam proyek PLTPB ini. Sebab, dari kajian permukaan, area itu merupakan pusat sumur panas bumi yang ada di Gunung Slamet.
Sehingga, peluang sumur itu menghasilkan panas bumi lebih besar. Pengeboran di Well Pad F, ditargetkan mencapai kedalaman 3.500 meter.
Berbeda dengan pengeboran sumur pertama atau Well Pad H, menjelang pengeboran Well Pad F, PT SAE lebih terbuka. Pengembang mengundang berbagai pihak mulai Pemerintah Kabupaten Banyumas, pemerintah kecamatan, hingga pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat.
Mereka diundang untuk melangsungkan ritual doa bersama. Doa dipanjatkan untuk kelancaran pengeboran yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini.
Meskipun, berdasarkan kajian ilmiah, sumur itu sudah barang tentu berpotensi menghasilkan panas bumi.
Tokoh masyarakat Desa Panembangan Kartun mengakui, PT SAE kini lebih bersikap terbuka menjelang pelaksanaan pengeboran.
Pengembang mungkin belajar dari pengalaman pengeboran sumur pertama yang disebutnya gagal karena tak ditemukan uap panas di dalamnya. Saat itu, tak ada gelaran semacam ini.
"Saat pengeboran pertama kan diam-diam, gak undang masyarakat. Yang pertama gagal. Ya mungkin di pengeboran kedua ini terus warga diundang, istilahnya minta doa restu agar pengeboran nanti lancar,"katanya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/aktivitas-proyek-pt-sae-untuk-pengembangan-pltpb-baturraden-di-lereng-gunung-slamet_20171003_133550.jpg)