OPINI

OPINI Ali Damsuki: Pirpres di Tengah Pusaran Bencana Alam

Motivasi dan semangat yang membara menjadi sebuah pijakan untuk berdiri, berhenti dari kegagalan.

OPINI Ali Damsuki: Pirpres di Tengah Pusaran Bencana Alam
Tribun Jateng
Ali Damsuki 

Oleh Ali Damsuki

Mahasiswa Pascasarjana Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Walisongo Semarang

 “I think each of the failures I had to face provided me with the opportunity of starting again and trying something new.”-(Harland David Sanders)-

 Motivasi dan semangat yang membara menjadi sebuah pijakan untuk berdiri, berhenti dari kegagalan. Kegagalan bukan benalu yang akan merugikan, akan tetapi menjadi awal dari sebuah kesuksesan. Fenomena flashback kegagalan yang dialami oleh Prabowo Subianto saat ajang Pilpres 2014 silam, tak menyurutkan Ketua Umum Gerindra untuk “berperang” lagi dalam perhelatan perebutan ‘kursi kekuasaan’ saat Pilpres mendatang.

Prabowo memang menjandi rival Jokowi sejak Pilpres 2014 lalu. Dinamika perpolitikan diwarnai oleh citra, kharisma, dan kampanye oleh kedua tokoh tersebut. Agenda politik menjadi ‘ramai’ oleh berbagai aktor pendukung calon tersebut.

Mulai dari wacana media, kampanye ‘blususkan’, hingga pencitraan yang dilakukan para calon tersebut dengan durungan Partai Politik yang mengawal.Agenda tersebut di ‘tembakkan’ seluruh Jawa khususnya. Jawa menjadi sentral kunci dalam peran perpolitikan di Indonesia. Mengutip Jean Boudrillard, tidak melulu melalui praksis kerja, tetapi juga praksis komunikasi. Language is also a medium of domanations and power.

Jawa memang akan menjadi penentu mesin politik partai. Bila dihitung, sekitar separuh pemilih di Indonesia berada di tanah Jawa. Pada akhir 2017 lalu, KPU melansir Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Jawa mencapai 91,16 juta suara. Masing-masing terdiri dari 32,8 juta di Jawa Barat, 27,4 juta di Jawa Tengah, dan 30,96 juta di Jawa Timur. Daftar jumlah ini potentially akan bertambah hingga Juni 2018.  Jawa memang memiliki pesona politik luar biasa. Di Jawa, setiap agenda sosial hari ini selalu diterjemah menjadi agenda politik. Propaganda, provokasi, dan citra dalam politik mulai jelas tergambar ke dalam satu kanvas besar: golden ticket 2019. Bahkan, pergolakan untuk memantapkan tiket itu kadang ditempuh melalui dinamika yang tidak sekadar kompetitif, tetapi pada kadar tertentu- oportunis.

2019 menjadi tahun perpolitikan yang nanti_nya kian memanas. Sebab, peta pertarungan Pilpres 2019 Prabowo Subianto akan kembali menjadi rival berat Joko Widodo yang kedua. Hal ini dibuktikan dengan ACC yang diperoleh Prabowo setelah Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan partainya mendaulat ketua umum Partai Gerindra itu menjadi capres

Pertarungan Jilid II

Kembalinya nuansa semangat Prabowo untuk menjadi Capres di Pilpres 2019 tentu mendapat sambutan yang luar biasa. Kondisi tersebut didukung pula oleh beberapai Partai Politik yang kian semangat mendampingi Prabowo. Hal ini dibuktikan dengan adanya kesepakatan tiga parpol tersebut, Prabowo mengantongi dukungan 174 kursi di parlemen, sehingga jauh melampaui persyaratan yakni diajukan parpol atau gabungan parpol yang memiliki minimal 20 persen kursi di DPR, atau minimal 112 kursi. Dengan demikian, dari 10 parpol yang memiliki kursi di parlemen, tinggal menyisakan Partai Amanat Nasional (PAN) yang belum secara resmi memutuskan siapa yang bakal diusung menjadi capres. Namun, hampir dapat dipastikan PAN akan bergabung dengan koalisi Gerindra-Demokrat-PKS, mengingat langkah dan sikap politik PAN selama ini yang segendang seirama dengan ketiga partai itu.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved