OPINI

OPINI Ali Damsuki: Pirpres di Tengah Pusaran Bencana Alam

Motivasi dan semangat yang membara menjadi sebuah pijakan untuk berdiri, berhenti dari kegagalan.

OPINI Ali Damsuki: Pirpres di Tengah Pusaran Bencana Alam
Tribun Jateng
Ali Damsuki 

Di pihak lain, Jokowi telah terlebih dulu mengantongi dukungan enam parpol, yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Nasdem, dan Partai Hanura.Pertarungan Jokowi dan Prabowo mengulang kembali Pilpres 2014. Empat tahun silam, Jokowi memenangi pilpres dengan perolehan 53,15 persen, dan Prabowo hanya meraup 46,85 persen. Dengan demikian, tahun depan merupakan pertarungan jilid kedua bagi mereka. Kondisi tersebut dengan jelas partai telah sigap memasang kuda-kuda dengan mempersonifikasikan aspirasi publik melalui pengenalan tokoh bintang mereka. Meski begitu, iklim politik nasional setidaknya terus bergulat pada dua kandidat utama, Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Hal yang perlu diperhatikan saat Pilpres ialah bagaimana wajah pertarungan perpolitikan selanjutnya. Semoga tindakan seperti kampanye hitam, fitnah, ujaran kebencian, politisasi SARA tidak menjadi agenda ‘licik’ yang dilakukan oleh kedua bakal calon. Sebab, bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu mengayomi masyarakatnya. Pemimpin yang mampu mengatasi kemiskinan, pengangguran, dan mendorong ekspor, harus tercermin dalam visi, misi, dan program kerja capres. Demikian pula tantangan mengatasi ancaman polarisasi dalam kehidupan kebangsaan, juga harus dapat diartikulasikan secara jelas kepada publik.

Bencana Tsunami Palu dan Donggala

Pilpres tahun 2019 memang tidak akan pernah luput dari wajah perpolitikan Indonesia. Namun dewasa ini, perpolitikan tengah berada pada posisi yang dilematis. Terjadinya banyak sekali bencana gempa bumi, banjir, hingga tsunami ikut menghiasi pemberitaan media yang kian memanas. Entah mana yang akan didahulukan dalam proses problem solving?Hal tersebut menjadi sebuah apologi yang tak perlu dijawab.

Dewasa ini memang memang banyak terjadi bencana di mana- mana, sebulan lalu lombok mengalami bencana alam gempa bumi yang mengguncang Lombok (6,4 SR), persis dua bulan lalu. Lebih dari 560 korban jiwa telah dikebumikan, paling banyak di Lombok Utara (466 jiwa). Rehabilitasi rumah dan infrastruktur yang rusak, juga baru dimulai. Mengutamakan rehab gedung sekolah. Serta infratsruktur jalan yang ambles. Lindu Palu, telah menambah panjang rantai kawasan terdampak gempa bumi.

Pantai Talise, Palu (Sulawesi Tengah), berduka sangat mendalam pasca gempa bumi berkekuatan 7,7 Skala Richter (SR), disertai tsunami. Telah ditemukan lebih dari 840 korban jiwa. Hal tersebut juga terjadi gempa tektonik di Palu (dan Donggala). Ironisnya, kawasan legenda bencana alam, kini menjadi perkotaan padat penduduk. Bahkan pada era moderen, transformasi budaya antisipasi bencana gempa dan tsunami, seolah menghilang. Legenda hanya dianggap mitos, dan tahayul. Padahal UU Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, mengamanatkan kepelatihan bencana.

UU Penanggulangan Bencana pada pasal 26 ayat (1) huruf b, dituliskan bahwa setiap orang berhak: “mendapat kanpendidikan, pelatihan, dan ketrampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana.” Bahkan pentingnya pendidikan dan latihan kebencanaan diulang lagi pada pasal 35..

Bencana yang terjadi menjadi sebuah peringatan dan nasihat bagi kita semua, khususnya pemerintah agar lebih menata negara dengan baik. Perpolitikan di Indonesia harus lebih dibenahi kembali. Semoga bencana ini tidak menjadi sebuah refleksi bagi dinamika perpolitikan yang dianggap “kurang jelas”.Wallahu’alam bi As-Shawab. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved