31 Tahun Tragedi Bintaro, Inilah Penyebab Kecelakaan Kereta Api yang Tewaskan Ratusan Orang
Hal yang menjadi sorotan adalah kelalaian petugas stasiun yang membolehkan masinis menjalankan kereta sehingga Tragedi Bintaro tak terelakkan.
TRIBUNJATENG.COM - Tragedi Bintaro merupakan cerita kelam masa lalu yang menjadikan kereta api KA 225 dan KAA 220 bertabrakan.
Korban yang tewas diperkirakan sekitar 156 orang dan ratusan orang mengalami luka-luka.
Banyaknya korban mejadikan dua musisi kenamaan Indonesia, Iwan Fals dan Ebiet G Ade, mengenangnya dalam lagu.
Selain itu, tragedi ini juga pernah dijadikan film pada 1989 dengan judul "Tragedi Bintaro", besutan sutradara Buce Melawau.
Terlepas dari itu, masih banyak cerita atau kisah mengenai peristiwa ini bisa terjadi.
Hal yang menjadi sorotan adalah kelalaian petugas stasiun yang membolehkan masinis untuk menjalankan kereta api.
Harian Kompas edisi 20 oktober 1987 menjelaskan bahwa KA 225 dan KA 220 merupakan kereta buatan Henschel, Jerman.
Masing-masing kereta memiliki bobot yang hampir sama, yaitu berkisar 90 ton.
Selain itu, keduanya menarik tujuh rangkaian gerbong yang masing-masing 35 ton.
Ketika peristiwa terjadi, KA 225 banyak membawa penumpang yang umumnya adalah karyawan yang bekerja di Jakarta.
Mereka tak tahu bahwa nantinya kereta yang ditumpangi akan saling bertabrakan.
Permasalahan lain adalah, banyaknya penumpang yang menaiki kereta tak pada tempatnya.
Artinya, mereka naik dan menempati di sisi luar gerbong, atap, dan bahkan di ruangan masinis pada lokomotif utama.
Di KA 225, tiap gerbongnya tersedia 64 kursi rotan dengan triplek sebagai penyangga badan.
Ketika itu, penumpang dalam kereta tak semuanya mendapatkan tempat duduk.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/tragedi-bintaro_20181019_200800.jpg)