Gondoroso Peramu Sesaji Keraton Solo Bingung Cari Penggantinya, Harus Janda
Gondoroso Peramu Sesaji Keraton Solo Bingung Cari Pengganti, Harus Janda. Anak-anaknya tak ingin ikuti jejak.
"Seminggu sebelumnya, buat dulu di rantaman (rancangan/catatan), saya minta sekian. Nanti, jumlahnya dihitung berapa. Sisa (kembalian) di belanjaan, ya upahnya. Kalau dirinci yah susah ya. Umpama, kiblat empat minta harga sekian. Kalau wuku dukut (Ritual/sesaji) biasa, itu Rp 1.250.000. Tapi kalau dipakai buah buahan, itu hampir Rp 4 Juta. Tadi kemisan, hanya sedikit. Hanya Rp 750 ribu," imbuhnya.
Dalam pembuatan sesaji Sri ditempatkan pada nampan. Sesajinya itu ditaruhnya di sudi (daun pisang).
“Tidak boleh pakai kertas. Harus daun pisang. Daun pisang harus dilap. Bersihin dulu, dipotong-potong baru dipakai. Kalau bikin 150-an (Sudi). Kalau bikin tumpeng bisa 1000-an. Cuman kalau pesannya kebanyakan yah repot. Tenaganya sedikit," keluhnya. (bas/gpe/oni/lil/mif)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/gondoroso-peramu-sesaji-keraton-solo_20181105_122451.jpg)