Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Gondoroso Peramu Sesaji Keraton Solo Bingung Cari Penggantinya, Harus Janda

Gondoroso Peramu Sesaji Keraton Solo Bingung Cari Pengganti, Harus Janda. Anak-anaknya tak ingin ikuti jejak.

Editor: galih permadi
TRIBUN JATENG/GALIH PERMADI
Sri Murdarsih, Gondoroso Peramu Sesaji Keraton Solo Bingung Cari Pengganti. 

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Gondoroso, peramu sesaji Keraton Kasunanan Surakarta, Solo bingung cari pengganti.

Peramu sesaji Keraton Solo harus seorang janda.

Sri Murdarsih, peramu sesaji Keraton Solo bisa jadi menjadi generasi terakhir menjadi gondoroso karena anak-anaknya tak ingin meneruskan jejaknya.

Sambil menatap langit ruang tamu, nampak mimik wajah Sri Murdarsih dipenuhi kebingungan. Wanita berusia 77 tahun ini sedang berpikir keras, mencari sosok yang akan menggantikan jejaknya sebagai gondoroso, peramu sesaji di Keraton Kasunanan Surakarta, Jawa Tengah.

Baca: Pemkot Solo Rencanakan Lelang Ulang Pasar Darurat Alun-alun Lor Keraton Solo

Baca: Jelang Kirab Pusaka Keraton Solo, Ubo Rampe Disiapkan oleh Abdi Dalem Perempuan

Dapur di rumah Gondoroso Peramu Sesaji Keraton Solo
Dapur di rumah Gondoroso Peramu Sesaji Keraton Solo (TRIBUN JATENG/GALIH PERMADI)

"Anak-anak saya  ndak mau meneruskan. Mereka ndak mau pakai gelungan dan pakai kemben karena sudah haji. Bingung. Siapa yang mau menggantikan saya nanti," ucap wanita yang tinggal di Kampung Gondorasan, Solo, Kamis (25/10/2018), siang.

Sri sudah tidak trengginas lagi, ia kini menggunakan alat bantu jalan. Keenam anaknya enggan ikuti jejaknya dan lebih memilih untuk mengikuti pasangan hidupnya masing-masing.

"Masalahnya anak saya itu ya jauh, di Bontang, di Jakarta, di Surabaya. Jadinya yah, ndak bisa toh. Jadi Gondoroso itu, harus menetap di sini. Anak saya itu, ada enam. Empat perempuan, dua laki-laki. Namun sudah berumah tangga semua. Jadi yah, ndak bisa. Ndak ada yang mau jadi Gondoroso ya mas. Biar Keraton saja nanti yang memilih," ujarnya.

Sri sudah 35 tahunan menjadi Gondoroso meneruskan jejak sang ibu. Sri diketahui masih kerabat dekat dengan Raja Pakubowono ke-V.

Sri menjelaskan menjadi seorang peramu sesaji di lingkungan Keraton Solo diwajibkan berstatus janda.

"Saya itu awalnya tinggal di Pati, Jawa Tengah. Suami saya meninggal tahun 1983. Lalu, saya ke Keraton gantikan ibu saya sebagai Gondoroso, dan ayah saya ini memang keturunan Pakubowono ke-V," terang Sri.

Semenjak ditinggal keenam anaknya, hidup Sri diramaikan dengan kegiatan memasak sesaji di dapurnya, oleh sepuluh orang Sinoman, pemasak Sesaji di waktu tertentu. Sri sendiri, mengaku tak lagi mampu memasak sesaji karena sempat sakit hingga sulit berjalan.

"Sesajinya itu, dulu ya manusia. Tapi, sekarang dibikin bekakak (Boneka berisi tepung beras). Nah, yang membuat itu saya. Tepung beras itu dikasih air panas, kan lembut toh. Sesaji itu ya macem-macem. Untuk kiblat empat nasi uduk ingkung (Ayam utuh), nasi tumpeng, janganan (Sayuran), asem-asem serta sambel gorengan. Lalu enteng-enteng (makanan kecil), klemang (ketan), pisang, kates (pepaya), jeruk, yaah itu macam-macam mas,” ujarnya.

Sri menceritakan, pesanan sesaji ternyata tak hanya dari pihak Kerajaan Keraton Kasunanan saja, tapi juga ada pesanan dari luar.

Biasanya, memasak pesanan sesaji dengan dari pihak kerajaan hanya menggunakan tungku terbuat dari batu dan kayu untuk sumber api.

"Kalau kompor saya Ndak mau. Takut gas itu meledak. Masak sesaji ya biasanya itu di setiap Kamis (malam Jumat), Selasa Kliwon dan setiap ada cara besar keraton dan maulid. Masaknya ya di sini. Di rumah saya. Nah, nanti tanggal 13-15 November ini, ada acara Maulid. Bisa-bisa, dua hari dua malam ndak bisa tidur,” ujarnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved