Jumat, 10 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kisah Slamet Bikin Etalase Makanan Gratis di Purwokerto

Etalase kaca mirip lapak jualan di pojok kios miliknya di komplek kampus Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).

Penulis: khoirul muzaki | Editor: m nur huda
Tribun Jateng/ Khoirul Muzakki
Etalase kaca mirip lapak jualan di pojok kios di komplek kampus Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Kotak itu ditempeli stiker tertulis, siapapun boleh mengambil, siapapun boleh mengisi.  

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - Ada banyak jalan untuk beramal. Tetapi cara beramal seorang pengusaha dari Purwokerto Wetan Kecamatan Purwokerto Timur Banyumas, Slamet Priyadi ini terbilang unik.

Ia memasang etalase kaca mirip lapak jualan di pojok kios miliknya di komplek kampus Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Kotak itu ditempeli stiker tertulis, siapapun boleh mengambil, siapapun boleh mengisi.

Dari pesan tulisan itu, tentu jelas maksud Slamet memasang lemari itu di tengah keramaian jalan kampus.

Iya, siapapun boleh mengisi makanan atau minuman ke dalam kotak itu. Siapapun juga boleh mengambil sedekah itu.

Slamet hanya memfasilitasi orang-orang yang ingin mendermakan sebagian hartanya dalam bentuk makanan atau minuman. Ia sekaligus memfasilitasi para penerima sedekah agar lebih mudah untuk mendapatkan haknya.

Ide itu tiba-tiba saja muncul di benaknya. Sebelumnya, pengusaha konveksi rupanya sudah kerap menyedekahkan makanan kepada kaum duafa di seputaran kota.

Di sana, pasti banyak kaum duafa, mulai dari pemulung, pengemis, gelandangan hingga tukang becak yang sering menahan lapar di jalan.

Saban hari, sejak lima tahunan silam, ia menyisihkan sebagian hartanya untuk dibagikan kepada kaum duafa dalam bentuk makanan.

"Sudah lima tahunan, setiap hari bagi makanan di jalan," katanya.

Bukan hanya harta, Slamet juga harus menyisihkan sebagian waktunya untuk membagi makanan itu langsung ke penerima.

Ada waktu-waktu tertentu dimana para kaum duafa ini mudah dijumpai. Sedikit saja terlambat, ia kehilangan momentum untuk berbagi karena mereka telah pergi.

Padahal ia tak punya banyak waktu untuk membagikan makanan ke penerima karena jadwal kerja yang padat.

Karena itu, ia berinisiatif membuat tempat untuk menitipkan sedekah makananya. Di tempat itu, dia dapat menaruh sedekah makanannya kapan saja tanpa harus terpacu waktu.

Mereka yang menjadi langanan sedekahnya pun bisa langsung mengambil makanan itu di etalase tanpa harus bertemu dengannya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved