Keanehan Pemuda yang Bunuh Ibu Kandungnya Berlanjut, Kini Berhari-hari Tak Mau Kencing
Dijelaskan Kapolres Pekalongan Kota, AKBP Ferry Sandi Sitepu, petugas kesulitan memeriksa Agus karena pemuda tersebut hanya diam
Penulis: budi susanto | Editor: muslimah
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Budi Susanto
TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Pihak Berwajib terus kawal proses pemeriksaan pelaku pembunuh yang dilakukan oleh Agus Ruhan (18), pemuda asal Sokoduwet, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan yang tega menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri pekan lalu.
Walaupun Agus diduga mengidap gangguan jiwa, namun petugas masih mencoba memeriksa pemuda tersebut.
Pasalnya, ada dugaan Agus dalam pengaruh obat-obatan saat melakukan aksinya.
Dijelaskan Kapolres Pekalongan Kota, AKBP Ferry Sandi Sitepu, petugas kesulitan memeriksa Agus karena pemuda tersebut hanya diam saat dimintai keterangan.
"Bahkan saat diminta untuk tes urin, Agus tak mau melakukannya, hingga beberapa hari pemuda tersebut tak mau buang air kecil," kata AKBP Ferry, Selasa (27/11/2018).
Selaku pihak berwajib, Jajaran Polres Pekalongan Kota mencoba mastikan pelaku benar-benar mengidap gangguan jiwa atau tidak.
"Jika tidak tentunya kami akan melakukan proses secara hukum, namun menunggu pemeriksaan dari tim kejiwaan," tambahnya.
Diceritakannya, Agus pernah dimasukkan ke Rumah Perlindungan Sosial Berbasis Masyarakat (RPSBM) Kota Pekalongan.
"Penuturan keluarga, saat dibawa ia diikat menggunakan tali karena terus berontak, namun hanya beberapa bulan saja kemudian keluar," ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, seorang pemuda asal Kelurahan Sokoduwet, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan bernama Agus Ruhin (18), tega menebas leher ibunya sendiri menggunakan parang hingga tewas.
Bahkan, di hadapan petugas saat dibawa ke kantor Polisi, pelaku merasa tak bersalah.
Kejadian tersebut terungkap saat Mutoleb (20) anak ke dua dari korban yang diketahui bernama Toyibah (46), mendengar suara aneh dari kamar ibunya.
Karena curiga, sekitar pukul 11.00 WIB Mutoleb mendatangi kamar tersebut, namun ia terkejut karena melihat sang ibu terkapar di lantai, ia memanggil ayahnya Mushi (33) yang tengah memperbaiki genteng di bagian depan rumah.
Sang ayah sangat terkejut saat memasuki rumah dan melihat jenazah istrinya diseret oleh anak kandungnya sendiri menuju kamar mandi.
"Saya benar-benar tidak menyangka anak kandung saya tega melakukan hal tersebut, saat saya di panggil oleh Mutoleb. Saya melihat istri saya dihabisi anak kandung saya," katanya, Rabu (21/11/2018).
Diterangkannya, jenazah istrinya ditutup menggunakan seprai dan kasur, yang kemudian diseret dari dalam kamar.
"Tidak ada masalah sebelumnya, maka dari itu saya tidak menyangka anak saya tega melakukan hal tersebut. Memang dulu ia pernah masuk rumah sakit jiwa pada 2006, namun sudah keluar beberapa tahun lalu," ujarnya.
Diketahui Agus merupakan anak ke lima dari enam bersaudara, yang kesehariannya hanya di rumah dan bergaul dengan rekan sebaya layaknya remaja seperti biasanya.
Kasat Reskrim Polres Pekalongan Kota, AKP Supardi yang berada di tempat kejadian perkara (TKP) menuturkan, Agus menghabisi sang ibu menggunakan dua parang.
"Kini pelaku sudah diamankan ke Polsek terdekat, dan kami tengah melakukan pemeriksaan. Kami belum bisa menentukan apakah pelaku bisa dijerat atas perbuatannya karena diduga pelaku mengidap gangguan jiwa," kata AKP Supardi.
Pihaknya akan mendatangkan ahli jiwa untuk memeriksa kejiwaan dari Agus, dan jenazah kini dibawa ke RSUD Bendan Kota Pekalongan.
"Nanti setelah pemeriksaan selesai baru bisa diputuskan apakah pelaku bisa jerat pasal untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya," imbuhnya.
Korban sendiri menderita luka sabetan senjata tajam di bagian pelipis dan leher bagian kiri.

(*)