Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berada di Antara Para Ustadz, Sudjiwo Tedjo Bicara Terkait Radikalisme hingga Penonton ILC Terpana

Seniman Sudjiwo Tedjo memberikan penjelasan terkait radikalisme di antara para ustaz di acara ILC. Para ustadz tersebut terpana

Penulis: Ardianti WS | Editor: abduh imanulhaq
Youtube
Sudjiwo Tedjo Beberkan terkait radikalisme yang diduga terserang radikalisme 

Kalau seratus masjid bisa mengatasnamakan semua mesjid, ini sangat prihatin."

"Tentu soal radikal, ya dalam konteks apa? mudah-mudahan ini hanya diskusi saja. pertama kali itu saya dengar kata terpapar (radikalisme)," ujar Jusuf Kalla.

Jusuf Kalla yang juga merupakan Ketua Umum pengurus pusat Dewan Masjid Indonesia (DWI) tidak setuju dengan pengambilan sample isi khotbah atau ceramah.

"Supaya diketahui, bahwa masjid itu, ada 34 ceramah perbulan. Karena umumnya masjid itu, habis dhuhur, ada kultum atau ceramah, Jumat tentu ada, jadi banyak sekali bukan hanya 4 kali saja sebulan.

Masjid itu tidak radikal, yang dianggap berbicara keras itu diundang dari luar, bukan khatibnya masjid situ. Karena itulah maka, kalau anda buka data, lengkap siapa khatib yang mengisi."

Jusuf Kalla menuturkan ia telah membaca hasil survei dan mengaku tidak paham mengapa kantor masjid di kantor Menko menjadi masjid yangpaling di katakan radikal.

Penjelasan Jose Mourinho Atas Selebrasi Banting Botol Minuman di Liga Champions

Ramalan Zodiak Hari Ini Rabu 28 November 2018, Aries Kurangi Egomu

Peruntungan Shio Hari Ini Rabu 28 November, Tahun Anjing Tanah Imlek 2659

"Jangan kita salah pengertian, dan itu berbahaya sekali, dan saya baca laporannya, yang radikal berat, justru kantor Menko, justru ingin membina bangsa ternyata radikal.

Waduh, hati-hatilah membuat studi seperti itu. berbahaya untuk kita pahami."

Jusuf Kalla kemudian menuturkan dewan masjid seusai mendengar studi survei yang mengatakan 41 masjid terpapar radikalisme, dewan masjid tidak begitu menanggapi secara serius dalam rapat besar.

Namun akan tetap memeriksa dan memfollow up hasil temuan tersebut.

Proses studi menurut Ketua DP Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat

Sebelumnya, Agus Muhammad, selaku Ketua DP Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat menjelaskan proses studi sehingga menghasilkan data 41 dari 100 masjid pemerintah di Jakarta, terpapar radikalisme.

Kriteria objek yakni yang pertama berada di Jakarta, kemudian Masjid bukan mushola, yang ketiga ada kegiatan tambahan di luar sholat berjamaah.

Agus menuturkan dalam menstudikan 100 masjid, relawan sebanyak 100 diturunkan untuk merekam 4 kali khotbah Jum'at berturut turut dalam satu bulan.

Dalam menentukan relawan, Agus mengatakan pihaknya menentukan dengan rekomendasi dari orang-orang terpercaya.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved