Cerita Panci Teflon, Hadiah dari NH Dini untuk Keponakannya
Kenangan akan sosok sang bibi, NH Dini masih membekas di ingatan Triana Noor Utami (51), warga Maguwoharjo, Sleman, DIY Yogyakarta
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Amanda Rizqyana
TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Kenangan akan sosok sang bibi, NH Dini masih membekas di ingatan Triana Noor Utami (51), warga Maguwoharjo, Sleman, DIY Yogyakarta.
Ia bersama kakak, suami, menantu, dan anaknya tiba di komplek Pemakaman Yayasan Sosial Gotong Royong Ambarawa pada Rabu (5/12/2018) pukul 10.00.
Ia berangkat dari Yogyakarta pukul 7.15 WIB.
Wanita yang sempat berkuliah di Fakultas Hukum Undip pada 1984 ini mengatakan Bibi merupakan sosok yang disiplin dan perfeksionis.
"Dulu saya diharuskan membersihkan dan merapikan taman baca beliau setiap akhir pekan," ujarnya.
Triana mengaku sering didukani (dimarahi, -red) karena ia sempat tidak melaksanakan tanggung jawabnya karena tugas kuliah.
Ia pernah dilarang menghadiri acara ulang tahun Taman Baca Sekayu. Sang bibi tak segan menegurnya bila ia tak melaksanakan tugas dengan baik.
"Saya diminta merapikan buku sampe benar-benar rapi dan saya juga membersihkan kulkas," ujarnya.
Membersihkan kulkas yang ia maksud ialah mengambil yang ada di dalam kulkas, kemudian membuang makanan yang sudah tak layak makan.
Selain disiplin, Triana juga mengenal NH Dini sebagai sosok yang sangat perfeksionis dan rapi.
Di kediamannya, segala pernak-pernik dan furniture selalu tertata rapi.
Bahkan ketika ia mengajak anak-anaknya mengunjungi wanita yang disapa Eyang Bibi, ia mewanti-wanti pada anak-anaknya agar tak menyentuh apapun barang sang bibi.
"Bibi sangat rapi dan semua benda harus diletakkan pada tempatnya," ujarnya.
Menurutnya, sifat sang bibi itulah yang membuatnya menjadi sastrawan terkenal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/triana-noor-utami-51.jpg)