Minggu, 19 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Edi Ubah Limbah Kaca Tak Terpakai Jadi Barang Bernilai Jutaan Rupiah

Untuk dekorasi acara pernikahan lengkap, Edi mematok harga termahal mencapai Rp 10 juta.

Penulis: budi susanto | Editor: galih pujo asmoro
Tribun Jateng/Budi Susanto
Edi tengah mengerjakan dokorasi acara pernikahan di rumahnya yang terletak di Dukuh Transan RT 05 RW 02 , Desa Bligorejo Kecamatan Doro Kabupaten Pekalongan, Senin (10/12/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Budi Susanto

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Melihat limbah kaca yang tidak terpakai, seorang lelaki asal Dukuh Transan RT 05 RW 02 , Desa Bligorejo Kecamatan Doro Kabupaten Pekalongan, memiliki ide untuk memanfaatkan limbah tersebut menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi.

Olahan limbah kaca yang dibentuk menjadi pernak-pernik dekorasi acara pengantin buatan Edi Susana (34) selalu diincar oleh pelanggannya.

Selain harga di bawah dari pasaran, keunikan karya Edi menjadi nilai tersendiri bagi para pelanggannya yang mayoritas menjadi penyedia jasa pernikahan.

Untuk dekorasi acara pernikahan lengkap, Edi mematok harga termahal mencapai Rp 10 juta.

Dan untuk barang-barang sejenis vas bunga atau hiasan rumah berkisar antara Rp 200 ribu hingga Rp 800 ribu tergantung tingkat kesulitannya.

Edi menerangkan, usaha mengubah limbah kaca menjadi barang-barang bernilai jual sudah dilakukan sejak 2014 silam.

"Sekitar empat tahun saya merintis usaha ini, awalnya bahan baku sangat murah karena untuk dua keranjang kaca sisa, hanya dipatok Rp 50 ribu. Namun sekarang harganya mencapai Rp 200 ribu," jelasnya, Senin (10/12/2018).

Dijelaskannya, pemasaran produknya mencapai Pemalang, Comal dan daerah di sekitar Kabupaten Pekalongan.

"Mayoritas yang memesan adalah penyedia jasa pernikahan, dan sejak saya membuka hingga kini mereka masih mempercayai saya untuk membuat dekorasi acara pernikahan dari limbah kaca," paparnya.

Ditambahkan Edi, idenya berawal ketika membuat hiasan bunga dari plastik, dan melihat limbah kaca yang tak terpakai.

"Dan saya mencoba menempelkan kaca-kaca yang sudah terpotong ke gerabah, waktu itu banyak yang menanyakan harga, kemudian saya mencoba membuat dekorasi pernikahan hingga sekarang," tuturnya.

Masih dijelaskan Edi, kendala yang dihadapi dalam pengembangan usahanya adalah modal, pasalnya tak jarang beberapa pelanggan membayar selang beberapa waktu saat barang diterima.

"Untuk menyiasati hal tersebut, saya juga kadang menyewakan dekorasi yang sudah saya buat, kalaupun para pelanggan belum membayar juga terpaksa saya mengistirahatkan dua pekerja saya beberapa hari," imbuhnya.

Terpisah, Ketua Dewan Kesenian Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Pekalongan, Munafah Asip Kholbihi yang pernah berkunjung ke tempat Edi beberapa waktu lalu, menerangkan, pihaknya akan membantu memfasilitasi para perajin.

"Kami akan ikut membantu, agar bisa mengikuti sertakan para pengerajin yang ada di Kabupaten Pekalongan dalam pameran. Termasuk membantu permodalan dan pelatihan, kami menyarankan supaya perajin bisa merekrut karyawan dari anak putus sekolah, suoaya mereka memiliki ketrampilan," imbuhnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved