Sempat Tembus Pasar Internasional, Kerajinan Rotan Milik Ahmad Soleh Saat Ini Terancam Punah
Anyaman rotan hasil pengrajin asal Gunungpati, Kota Semarang ini diekspor hingga Australia.
Penulis: M Nafiul Haris | Editor: suharno
Untuk bertahan, sehari-hari ia memproduksi lebih banyak kerajinan tas dan baki lamaran karena peminatnya cukup menjanjikan dibandingkan lainnya.
Konsumen tas lanjutnya, banyak datang dari Yogyakarta.
• Kerajinan Rajutan Asal Kendal Rambah Pasar Aceh hingga Papua
Terakhir kata dia, mendapatkan order asal Australia sebanyak 200 biji replika kanguru berbahan dasar kayu rotan.
Dalam proses pengerjaan setiap pesanan memakan waktu berbeda-beda, paling cepat dua sampai tiga hari jadi.
"Paling lama membuat pesanan seperti kanguru tadi, kalau banyak bisa sampai 2 bulan," sebutnya.
Kerajinan buatan Soleh dibanderol harga bervariasi mulai termurah diangka Rp 10 ribu hingga Rp 4 juta.
Dalam sekali produksi ia bisa menghabiskan sebanyak 1 sampai 2 Kwintal rotan.
Seperti bentuk kanguru, kayu rotan yang dia habiskan hingga 3 Kwintal.
Menurutnya, dalam seluruh pembuatan bentuk tidak mengalami kesulitan hanya saja sekarang peminat berkurang lantaran terkendala promosi.
"Contoh 1 biji replika kanguru itu ya bisa sampai 2 kilo rotan. Susahnya sekarang promosinya biar terus laku," keluhnya
Dikatakan Soleh, kerajinan rotan hasil buatannya mampu bertahan tahunan.
Bahkan, untuk jenis tas tertentu mampu menahan beban seberat 5 kilogram tergantung bentuk pesanan awal dari pembeli dan kegunaan setelah jadi.
Pihaknya menjelaskan untuk proses pengiriman ke luar negeri kerajinan rotan hasil buatannya itu digabung dengan kontainer yang mengangkut barang ekspor lain menyesuaikan arahan pemesan.
Semula kemampuannya menganyam rotan menjadi aneka macam bentuk kerajinan diperoleh dari orangtua kemudian pernah ikut bekerja di sebuah perusahaan asal China di Jakarta.
"Kalau sekarang sepi begini ya paling penghasilan sebulan Rp 3 juta. Belum termasuk ongkos beli bahan baku rotan 1 kilogram Rp 40 ribu," paparnya.
Dirinya berharap pemerintah turut memperhatikan pelaku usaha kerajinan seperti dirinya dengan membantu promosi.
Menurut Soleh dahulu terdapat puluhan pengrajin rotan ditempatnya sekarang hanya tinggal beberapa saja.
"Dulu 30 orang sejak krisis moneter tinggal sedikit. Rata-rata pindah profesi, anak muda jaman sekarang juga enggan beginian. Kalau disini tinggal 5 orang saja," pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pengrajin-rotan-ahmad-soleh-52-menganyam-tas-di-sentra-kerajinan-rotan.jpg)