Begini Penjelasan Rinci BRT Trans Semarang Soal Cara Kerja dan Keamanan Converter Gas
Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang bekerjasama dengan Pemkot Toyama, Jepang, melaunching converter gas pada Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang
Penulis: Reza Gustav Pradana | Editor: galih permadi
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Reza Gustav
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang bekerjasama dengan Pemkot Toyama, Jepang, melaunching converter gas pada Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang, Rabu (9/1/2019) di Patra Hotel, Semarang.
Sebanyak 72 armada kini tak hanya menggunakan solar sebagai bahan bakar, namun juga gas dengan menggunakan alat yang bernama Compress Natural Gas (CNG) dari Jepang.
Hal itu bertujuan mengurangi emisi gas buang, menambah tenaga dan tentunya lebih ramah lingkungan.
Kepada Tribunjateng.com, Kepala BLU Trans Semarang Ade Bhakti menjelaskan secara rinci mengenai cara kerja alat atau sistemconverter tersebut.
“Converter yang dipasang di BRT Trans Semarang ini adalah jenis DDF (Diesel Dual Fuel), dengan sistem retrofit, yang mencampur dua sumber bahan bakar yaitu solar dan gas.”
“Antara gas dan solar berjalan berbarengan, jadi tugas dari DDF ini mensubtitusi sebagian (50 hingga 60 persen) konsumsi solar pada saat mesin diesel dinyalakan,” terang Ade.
Dirinya menambahkan bahwa mesin diesel pada BRT itu memang tidak menggunakan spark plug (busi), namun alat dari Jepang tersebut memiliki pengganti teknologi fungsi spark plug untuk memantik (ignite) pembakaran bahan bakar gas (BBG).
Sementara itu, Edi Yudistira, seorang mekanik dari BRT Trans Semarang, mengatakan bahwa jumlah gas yang disalurkan ke mesin dapat diatur sesuai kebutuhan dengan Electronic Control Unit (ECU).
“DDF ini mengusung sistem modular, jadi dalam operasionalnya semua bisa di-menej oleh ECU sehingga jumlah gas yg disalurkan ke mesin diatur sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ade mengungkapkan alasan mengapa memilih DDF yang tentunya melalui berbagai pertimbangan.
“Kenapa teknologi DDF ini yang kami pilih? Karena BRT mengusung mesin diesel, jadi kalau kita ubah menjadi mesin dedicated (seratus persen) gas, otomatis mesin itu tidak bisa lagi menggunakan solar untuk selamanya.”
“Selain itu, mengingat prasarana SPBG (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas) yang ada masih sangat terbatas, jadi dikhawatirkan ketika bahan bakar habis bisa mengganggu operasional,” terangnya.
Sebagai informasi, di Kota Semarang terdapat sejumlah SPBG, yaitu berada di Mangkang, Penggaron dan Kaligawe, namun belum diaktifkan.
Pengisian bahan bakar gas (BBG) sementara dilakukan di kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang, Tambak Aji.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/brt-trans-semarang-koridor-i-mangkang-penggaron.jpg)