Agar Bisa Seberangi Sungai Comal, Setiap Patahan Jembatan Dipasang Tangga Bambu
SUDAH hampir setahun ini runtuh atau patahnya Jembatan Kali Keruh menjadi beberapa bagian, masih sama, bahkan semakin parah.
Penulis: budi susanto | Editor: deni setiawan
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Budi Susanto
TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Sudah hampir setahun ini runtuh atau patahnya Jembatan Kali Keruh menjadi beberapa bagian, masih sama, bahkan semakin parah dan ada yang tergerus derasnya aliran air sungai.
Hingga saat ini belum ada satupun aktivitas perbaikan oleh pemerintah.
Padahal menurut penuturan warga setempat, jembatan yang melintasi Sungai Comal tersebut merupakan jalur penghubung Desa Luragung Kecamatan Kandangserang Kabupaten Pekalongan dan Desa Medayu Kecamatan Watukumpul Kabupaten Pemalang.
Jikapun dipaksa berputar tidak melalui jembatan tersebut, warga Desa Luragung misalnya harus menghabiskan waktu hingga 2 jam ketika hendak menuju Kecamatan Kesesi yang terletak di ujung barat Kabupaten Pekalongan.
Sebagai siasat, kedua warga desa tersebut pun bergotong royong menyiapkan sarana-prasarana ala kadarnya untuk membantu siapapun yang hendak melintasi Sungai Comal tersebut.
Terlebih prihatin ketika anak-anak sekolah, pegawai, hingga petani saat melintasi bebatuan sungai demi efektivitas waktu tempuh mereka.
Seperti yang terlihat saat ini, di saat Tribunjateng.com, Kamis (24/1/2019) di sekitar lokasi hancurnya jembatan tersebut.
Terdapat setidaknya dua tangga terbuat dari potongan bambu dipasang di setiap patahan pondasi jembatan.
Warga di dua desa tersebut bisa memanfaatkan anak tangga agar bisa melintasi patahan demi patahan konstruksi jembatan, tanpa harus lagi melawan derasnya aliran air sungai.
Bila ada yang kerepotan atau ketakutan menaiki, menuruni anak tangga bambu itu, sudah ada warga yang berjaga secara sukarela untuk membantu.
"Sebelumnya, pasca jembatan itu runtuh, warga terpaksa menyeberangi sungai, bahkan saat banjir. Karena jembatan itu merupakan akses terdekat yang menghubungkan kedua desa antarkabupaten," kata Nur Ivan (46) warga Desa Luragung.
Dia menuturkan, ketika kondisi air Sungai Comal itu meluap, masyarakat menunggu beberapa saat hingga air surut, setidaknya diperkirakan kondisi sudah cukup aman untuk disebrangi.
“Dahulu ada jalan darurat yang dibangun warga, tetapi karena tersapu banjir, rusak dan hilang,” paparnya.
Pihaknya berharap, jembatan tersebut segera diperbaiki agar masyarakat tak lagi membahayakan keselamatan atau aman saat menyeberangi sungai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/jembatan-runtuh-pekalongan.jpg)