Senin, 1 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kisah Inem Jogja, Transformasi Dari Dosen ISI Yogyakarta Menjadi 'Wong Edan'

Di balik sosok Inem yang sering disebut 'wong edan' di Yogyakarta, penebar kebaikan itu adalah seorang wanita cantik bernama Made Dyah Agustina.

Tayang:
Editor: deni setiawan
Kisah Inem Jogja, Transformasi Dari Dosen ISI Yogyakarta Menjadi 'Wong Edan' - inem-jogja1.jpg
Instagram @inemjogja
DOKUMENTASI Inem Jogja sedang membagi kebahagiaan.
Kisah Inem Jogja, Transformasi Dari Dosen ISI Yogyakarta Menjadi 'Wong Edan' - inem-jogja2.jpg
Instagram @inemjogja
DOKUMENTASI Inem Jogja sedang membagi kebahagiaan.
Kisah Inem Jogja, Transformasi Dari Dosen ISI Yogyakarta Menjadi 'Wong Edan' - inem-jogja3.jpg
Instagram @inemjogja
DOKUMENTASI Inem Jogja berbagi kebahagiaan.

TRIBUNJATENG.COM, YOGYAKARTA - MENDENGAR nama 'Inem', biasanya akan langsung identik dengan sosok pembantu rumah tangga.

Maklum, nama Inem populer gegara sinetron lawas era 1997 yang diperankan artis Sarah Vi berjudul Inem Pelayan Seksi.

Namun, di Yogyakarta, Inem bukanlah pelayan rumah tangga melainkan sesosok wanita dandanan bak badut dan citra 'wong edan' (orang gila) yang melekat padanya.

Di balik sosok Inem yang sering disebut 'wong edan' penebar kebaikan itu adalah seorang wanita cantik bernama Made Dyah Agustina.

Seringkali, Inem Jogja ini berjalan-jalan di berbagai lokasi untuk berbagi dengan para pedagang jalanan.

"Saya bagikan apa yang saya punya. Kalau lagi jadi Inem kan saya selalu bawa tas. Yah, apa yang ada di tas itu saya bagi, ada nasi bungkus dan hal kecil lain yang berguna," ungkap Inem Jogja dikutip dari Kompas.com (6/2/2019).

Tak hanya makanan atau barang-barang kecil, Inem juga sering meluangkan waktu untuk berbincang dengan para pedagang dan mendengar keluh kesah mereka.

Tujuan Inem yang mulia itu seringkali mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari masyarakat karena dianggap orang gila.

Ia pernah diusir dan dilempari es batu oleh pedagang es karena dianggap meresahkan.

"Waktu di Malioboro diusir keamanan."

"Terus waktu itu juga ada pedagang es teh melempar saya pakai es batu karena dia pikir saya bikin takut pembeli," ungkap Made.

Hal itu tak menyurutkan keinginan Inem untuk membantu sesama.

Bagi Made, berubah menjadi sosok Inem Jogja bisa membuka jalan untuk ia berbagi.

"Saya jadi Inem ini kan untuk mengisi waktu luang. Jadi, seminggu bisa cuma sekali keliling jogja atau kalau emang benar-benar banyak waktu luangnya, yah, bisa seminggu sampai empat kali," jelas Made.

Made Dyah Agustina bukanlah wanita biasa.

Sumber: Intisari
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved