Rajawali Foundation Latih Difabel Masuki Dunia Kerja atau Dunia Usaha, Dimulai dari Magang
Sebanyak 69 pemuda kurang mampu, rentan, dan difabel mengikuti program pelatihan kerja yang diselenggarakan oleh Rajawali Foundation.
Penulis: Jamal A. Nashr | Editor: suharno
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sebanyak 69 pemuda kurang mampu, rentan, dan difabel memasuki dunia kerja.
Mereka merupakan pemuda yang berasal dari Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Demak.
Sebelumnya, mereka telah mengikuti program Strengthening Coordination for Inclusive Workface Development in Indonesia (Sinergi).
Program ini merupakan hasil kerja sama antara Rajawali Foundation dan Pusat Transformasi Kebijakan Publik dengan USAID.
Selama setahun terakhir, sebanyak 445 pemuda dari keempat daerah tersebut mengikuti program ini.
Dari jumlah itu 423 pemuda berhasil lulus dan 69 di antaranya saat ini telah masuk dunia kerja atau merintis usaha.
Mereka merupakan pemuda umur 18-34 tahun yang diambil dari karang taruna, pesantren, komunitas difabel, dan lainnya.
"Hari ini menyampaikan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, capaiannya, hambatannya, kemudian harapan kedepannya. Karena kita tidak berharap ini selesai hanya setahun ini, tapi berlanjut lagi," kata Direktur Eksekutif Rajawali Foundation, Agung Binantoro, di sela acara Dialog Nasional Ketenagakerjaan Inklusif di Wisma Perdamaian Semarang, Selasa (12/2/2019).
• KPU Kabupaten Pati Libatkan Para Difabel Untuk Merakit Kotak Suara Pemilu 2019
Sebelumnya, para pemuda ini telah mengikuti sejumlah pelatihan sesuai standart.
Mereka dilatih soft skill untuk membangun kepercayaan diri dan kemampuan berkomunikasi, hard skill sesuai dengan bakat dan minat mereka, dan pemagangan di bidang usaha.
"Kalau kita lihat yang tidak lulus presentasinya kecil, dari 445 yang lulus 423. Kebanyakan alasan keluarga, kita tidak bisa memaksa hal itu," ucapnya.
Menurutnya, hambatan saat melatih para peserta untuk memunculkan rasa percaya diri adalah mendobrak batas-batas yang terbangun dalam pikiran mereka.
Hal ini karena beberapa peserta program ini memiliki kebutuhan khusus.
"Untuk tampil saja bagi mereka sudah suatu kesulitan, dan teman-teman difabel ada yang baru pertama kali keluar dari lingkungannya. Ikut pelatihan lagi, ikut wawancara kerja. Jadi persoalan kita itu memberi mereka kepercayaandiri, memberi mereka fondasi untuk berani tampil," tuturnya.
Sementara, untuk mengasah kemampuan teknis peserta menurutnya lebih mudah.
Para peserta dapat mempelajari hal-hal hard skill dibantu mentor.
Dalam pelatihan ini peserta dibagi sesuai penjurusan berdasarkan minat.
Selanjutnya peserta akan mengikuti magang di instansi.
"Kita berharap bisa lebih banyak berkontribusi, bisa lebih banyak adik-adik yang dilatih. Tidak hanya di empat kebupaten/kota," harapnya.
• Keluarga Difabel Celebral Palsy Keliling Kota Semarang dengan Bus Tingkat
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Tengah, Wika Bintang mengatakan, pelatihan soft skill merupakan hal yang sangat penting untuk orang dengan kebutuhan khusus.
Menurutnya, di dunia kerja soft skill sangat dibutuhkan selain hard skill.
"Kami sangat bersyukur karena di Jawa Tengah ini kemiskinan masih tinggi walaupun tahun ini penurunannya sangat tajam. Ini harus didorong unuk turun," sebutnya.
Ia berharap, selanjutnya program ini tidak hanya menyasar pemuda di tiga daerah saja.
Namun, dapat menjangkau daerah lain di Jateng yang tingkat ekonomi rendah.
"Masih ada 13 kabupaten miskin yang lain. Sementara dari empat yang disasar kemarin baru Demak, masih 13 lagi. Kami sampaikan untuk ikut dijamah. Kami berharap dengan program ini akan mengurangi pengangguran, mereka juga ada yang mandiri. Kami juga siap membantu mereka memasarkan apa yang mereka buat," katanya. (jam)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/dialog-nasional-ketenagakerjaan-inklusif-di-wisma-perdamaian-semarang.jpg)