Selasa, 12 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Masyarakat Kandri Lakukan Tradisi Nyadran Kali, Inilah Asal Usulnya

Ratusan Masyarakat Kelurahan Kandri mengikuti arak-arakan Nyadran Kali, Kamis (14/2/2019).

Tayang:
Tribunjateng.com/Hermawan Handaka
Ratusan warga Desa Kandri Semarang mengikuti arak-arakan kirab budaya "Nyandran Kali" yaitu kirab property nyadran berupa tumpeng, gunungan hasil bumi dan replika kepala kerbau yang diarak dimulai dari Sendang Lanang menuju Sendang Gede sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan, karunia dan kesejahteraan yang diterima oleh warga masyarakat Desa Kandri, Kamis (14/2). Setelah arak-arakan acara dilanjutkan makan bersama warga, tokoh adat dan tamu undangan. (Tribun Jateng/Hermawan Handaka) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ratusan Masyarakat Kelurahan Kandri mengikuti arak-arakan Nyadran Kali, Kamis (14/2/2019).

Arak-arakan dimulai dari Sendang Lanang menuju Sendang Gede. Semua warga turut berpartisipasi dalam Nyadran ini.

Para ibu-ibu membawa wakul yang berisi makanan, para pemuda memikul gunungan hasil bumi, dan para pemudi membawakan tarian tradisional kelurahan Kandri.

Usai arak-arakan, masyarakat menggelar makan bersama di Sendang Gede.

Sendang Gede menjadi pusat pelaksanaan Nyadran Kali lantaran Sendang ini menjadi tempat bersejarah bagi masyarakat Kandri.

Juru Kunci Sendang Gede, Ahmad Supriyadi menceritakan, mulanya Sendang Gede ini merupakan mata air yang besar.

Pada jaman dahulu, masyarakat Kandri takut jika Desa Kandri ini menjadi rawa. Lalu, sesepuh Kandri memberi tumbal berupa kepala kerbau dan uborampe lainnya di mata air tersebut.

"Tempat ini kemudian dibuat sendang, namanya Sendang Gede," katanya.

Lanjut Supriyadi, setelah menjadi sendang, banyak kejanggalan terjadi. Pada saat itu, ada seorang menangis di sendang ini.

Setelah menangis dan pulang rumah, orang tersebut meninggal dunia. Oleh karena itu, masyarakat tidak diperbolehkan menangia di tempat ini.

"Selain tidak boleh menangis, masyarakat juga tidak boleh mencuci alat dapur di sini karena dulu ada orang yang mencuci alat dapur kemudian dibawa ke rumah, orangnya stress," jelasnya.

Dia juga menandaskan, masyarakat tidak boleh mencaci maki apa yang ada di sendang ini, terutama airnya.

Hal ini karena air sendang ini bisa berubah tiga macam, yaitu keruh, jernih, dan warna darah.

"Kalau yang tidak kuat melihat seluruh air di sendang ini berubah jadi darah, maka bisa stress atau lupa diri," ujarnya.

Dia menambahkan, setiap tahun Desa Kandri selalu mengadakan Nyadran Kali Gede sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan, karunia dan kesejahteraan yang diterima oleh masyarakat Desa Kandri.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari mengapresiasi tradisi Nyadran Kali yang selalu diselenggarakan okeh masyarakat Kandri setiap tahun.(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved