Senin, 20 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Pemilu 2019

Pemilu 2019, Penjual Bambu di Salatiga Diuntungkan, Banyak Caleg Memesan untuk Rangka APK

Pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, meliputi Pilpres dan Pileg membawa berkah bagi pedagang bambu yang ada di Kota Salatiga.

Penulis: M Nafiul Haris | Editor: m nur huda
TRIBUNJATENG/M NAFIUL HARIS 
Penjual bambu di ruas jalan Tuntang-Salatiga Rohmat (berkaos hitam) sedang melayani pembeli. Rata-rata peminat bambu yang ia jual adalah para calon anggota legislatif. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Nafiul Haris

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, meliputi Pilpres dan Pileg membawa berkah bagi pedagang bambu yang ada di Kota Salatiga.

Satu di antaranya Rohmat (55) penjual bambu di tepi jalan Tuntang-Salatiga. Menurutnya, selama memasuki awal kampanye hingga sekarang dalam sebulan ia mampu menjual ratusan batang bambu.

Rohmat mengatakan bambu yang ditawarkan dihargai per batang Rp 7 ribu. Pada hari biasa ia hanya mampu menjual maksimal 10 batang bambu kadangkala tidak laku sama sekali.

"Penjualan tetap sama kayak hari biasa, paling untung seribu rupiah per batang dari pembelian di supliyer Rp 6 ribu," terangnya kepada Tribunjateng.com, Sabtu (16/2/2019)

Dikatakan Rohmat ia tidak hanya menjual bambu batangan saja melainkan pula dalam bentuk telah bilah dan menerima pesanan khusus membuat rangka untuk pemasangan alat peraga kampanye.

Ia menyebutkan satu rangka untuk pemasangan alat peraga dihargai Rp 45 ribu. Harga itu kata dia, belum termasuk bambu yang belum dibelah hanya jasa pembuatan saja siap pasang.

"Saya bisa mendapatkan bambu dari penjual lain asal daerah Lopait, atau Bringin Kabupaten Semarang," katanya.

Rohmat mengaku telah berjualan bambu sekira empat tahun. Selain melayani pesanan pembuatan rangka sebagai penyangga alat peraga kampanye dia juga menjual kandang ayam, dan tempat jemuran pakaian yang semuanya terbuat dari bambu.

Sejak masa kampanye dalam sehari pendapatannya naik signifikan hingga Rp 300-500 ribu dibandingkan hari biasanya kadangkala juga tidak pasti.

Perhari lanjutnya, konsumen datang membeli 5 hingga 25 batang bambu rata-rata mereka adalah calon anggota legislatif.

"Per hari dulu sebelum ramai pemilu maksimal Rp 50 ribu kadangkala ya Rp 15 ribu yang jelas tidak dapat dipastikan," ungkapnya.

Seorang Caleg yang kebetulan membeli bambu di lokasi, Henry TSS menyatakan, meski zaman telah banyak kemajuan dengan adanya teknologi digital menurut dia kampanye konvensional tetap efektif.

Pada kesempatan itu, Henry membeli sebanyak 25 batang bambu yang hendak digunakan untuk pemasangan alat peraga kampanye (APK). Dari 25 batang bambu kata dia dapat menjadi 10 buah atau titik pemasangan baliho caleg.

"Panjang bambu yang saya cari tadi minimal enam meter. Adanya penjual bambu ini sangat membantu terutama bagi caleg dengan kondisi pembiayaan terbatas," ungkapnya.

Ia mengungkapkan sarana kampanye konvensional dengan memasang alat peraga kampanye dalam bentuk baliho dianggap perlu dilakukan terutama menyasar wilayah yang belum tersentuh digitalisasi.

Menurutnya, bambu yang ia beli akan dibuat menjadi rangka penyangga APK berukuran 2x2 meter.(ris)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved