Hari Lahan Basah, Komunitas ini Kenalkan Pentingnya Mangrove ke Siswa SMPN 3 Wedung Demak
Komunitas Mangrove Weatlands Internasional mengenalkan pentingnya penyelamatan mangrove di SMPN 3 Wedung, Demak, Jawa Tengah, Kamis (21/2/2019) pagi.
Penulis: Alaqsha Gilang Imantara | Editor: suharno
TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Komunitas Mangrove Weatlands Internasional mengenalkan pentingnya penyelamatan mangrove di SMPN 3 Wedung, Dukuh Tambakgojoyo, Desa Wedung, Kecamatan Wedung, Demak, Jawa Tengah, Kamis (21/2/2019) pagi.
Kegiatan tersebut juga untuk memperingati hari lahan basah se-dunia yang jatuh tanggal 2 Februari 2019,
Kegiatan diawali dengan beberapa potongan film dokumenter yang memberikan informasi tentang lahan basah.
Acara ini juga dihadiri perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Demak.
Siswa kelas IX SMPN 3 Wedung, Ihwanul Ihsan (14) mengaku senang dengan kegiatan ini lantaran mengenal mangrove dan pemanfaatan mangrove.
"Acara ini bagus untuk mengembangkan mangrove sekaligus mengenalkan SMPN 3 Wedung yang mempunyai potensi wisata mangrove karena di sekelilingnya terdapat mangrove," ujar Wawan sapaan akrabnya, Kamis (21/2/2019).
• Kapolsek Mranggen Demak Cek Lokasi Tebing Galian C yang Longsor dan Timbun Tujuh Truk
Kepala SMPN 3 Wedung, Mushonef mendukung program pengenalan mangrove di sekolah.
"Mangrove sangat harus dikembangkan mulai dari budidaya, sampai pemanfaatan. Kami akan mengembangkan mangrove dengan dimasukan dalam muatan lokal dalam kurikulum," ujarnya ditemui di SMPN 3 Wedung,.
Menurutnya, mangrove secara alami digunakan untuk mencegah abrasi namun juga bisa dimanfaatkan untuk membuat sirup dan batik.
"Untuk pembuatan batik memanfaatkan akarnya, diproses, diperas dan diambil, dimasak kainnya dengan kain putih dan cairan warna yang khas,"ungkapnya.
Kemudian, kata dia, batik terdiri dari dari dua jenis yaitu batik tradisional (dari canting) dan batik modern yang menggunakan cap.
Namun demikian, sarana prasarana sekolah masih kurang mendukung untuk pembelajaran terutama komputer untuk mendesain batik melalui aplikasi Photoshop.
"Kalau tidak ada komputer, anak-anak tidak bisa mendesain batik dari mangrove karena untuk mendesain butuh aplikasi Photoshop di komputer,"tuturnya.
Koordinator Mangrove Weatlands Internasional wilayah Demak, Eko Budi Prayitno,mengatakan pihaknya mencoba mengenalkan mangrove kepada anak-anak SMP 3 Wedung.
"Kegiatan ini juga bertujuan agar anak-anak peduli terhadap kawasan pesisir dengan memutarkan film tentang perubahan iklim dan mangrove yang intinya untuk mempertontonkan bahwa mangrove itu cukup penting," tuturnya ditemui di SMPN 3 Wedung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/siswa-smpn-3-wedung-asyik-mengikuti-tari-tarian-tradisional-di-smpn-3-wedung.jpg)