Ngopi Pagi

FOKUS : Cendol Dawet Seger

Proses kampanye terbuka Pemilu 2019 resmi dimulai. Parpol, Caleg, Capres, berlomba menarik massa salah satunya melalui gelaran dangdut.

FOKUS : Cendol Dawet Seger
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Suharno Wartawan Tribun Jateng 

Oleh Suharno

Wartawan Tribun Jateng 

"Cendol dawet, cendol dawet seger, lima ratusan gak pake ketan. Ji, ro, lu, pat, limo, enem, pitu, wolu. Tak kintang-kintang, tak kintang-kintang, tak kintang-kintang, lololo, ngono lho". Lirik lagu yang dilantunkan sang biduan dangdut di atas panggung membuat ratusan orang yang ada di bawah panggung.

Lirik tambahan di lagu Pamer Bojo karya Didi Kempot ini mampu menyatukan sejumlah penonton dari berbagai kalangan. Entah tukang becak, driver ojek, karyawan swasta, pengusaha UMKM, pengangguran, hingga aparat keamanan membaur dan berjoget bersama.

Jogetan mereka yang mengikuti alunan lagu campursari yang diubah ke dangdut seakan melupakan kegaduhan bangsa ini menjelang Pemilu 2019. Entah pilihannya berbeda, mereka berbaur, berjoget mengikuti irama musik dangdut.

Namun dangdut kemungkinan juga bakal dipilih para elite politik sebagai ajang kampanye terbuka partai politik, tim calon legislatif maupun tim sukses pasangan calon presiden untuk mengundang massa datang. Hal tersebut juga sudah terjadi di kampanye-kampanye sebelumnya.

Menurut Skala Survei Indonesia (SSI), dangdut menjadi jenis musik yang digandrungi di negeri ini, sekitar 58,1 persen. Setelah itu, baru diikuti lagu pop ditempat kedua dengan 31,3 persen. Kemudian disusul sejumlah genre lainnya yang nilainya tidak melebihi 10 persen.

SSI juga menyebut dangdut digandrungi segala lapisan masyarakat. Mulai dari warga yang tidak tamat sekolah dasar (SD) hingga warga lulusan perguruan tinggi. Hal ini tidak menutup kemungkinan dangdut bakal menjadi satu ornamen kampanye terbuka Pemilu 2019 yang telah dimulai hari Minggu (24/3/2019) kemarin hingga tanggal 13 April 2019 mendatang. Alasannya simpel, karena dangdut dianggap merupakan musiknya rakyat sehingga untuk menarik rakyat ya digunakanlah musik dangdut.

Namun, semoga saja kampanye terbuka tidak hanya menampilkan hura-hura untuk mengundang massa dan simpatisan yang banyak. Tetapi, masyarakat juga harus cerdas mengamati program-program apa yang diberikan oleh Parpol, Caleg hingga Capres jika terpilih nanti demi membawa kesejahteraan bagi kota/kabupaten, provinsi, hingga negara yang pada akhirnya membawa kesejahteraan juga bagi rakyat Indonesia.

Seperti yang diutarakan Pengamat politik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Karim Suryadi mengatakan, kampanye terbuka tidak mencerminkan pendidikan politik bagi masyarakat. Kampanye terbuka hanya bersifat hura-hura dan tidak menyentuh pada titik substansi yang ditawarkan parpol atau caleg kepada pemilih.

Karim juga menilai parpol atau caleg hanya menawarkan dirinya tanpa memberi alasan jelas kepada pemilih. Dia menduga, parpol ataupun caleg tidak mempunyai isu yang jelas untuk ditawarkan kepada masyarakat.
Seharusnya, kata Karim, kampanye terbuka menjadi proses pendidikan politik bagi masyarakat agar mengetahui siapa dan mengapa harus memilih suatu parpol atau seorang caleg. Parpol, Caleg maupun Capres harus memberikan edukasi kepada publik, kenapa masyarakat harus memilihnya.

Selain memberikan edukasi kepada publik, tentu masyarakat ingin kampanye terbuka selama beberapa minggu ini berjalan kondusif tanpa ada keributan maupun kegaduhan. Layaknya cendol dawet seger lima ratusan yang murah, semoga kampanye ini tidak hanya sekadar ajang hura-hura tetapi kegiatan yang bersifat murah, namun menghasilkan sesuatu yang manis dan enak bagi rakyat Indonesia. (*)

Penulis: suharno
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved