Selasa, 14 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Pemilu 2019

Bawaslu Jepara Sampaikan Pesan Pengawasan Pemilu Lewat Monolog

Ketua Bawaslu Jepara, Sujiantoko mengatakan, Pemilu tinggal sebentar lagi. Seluruh lapisan masyarakat diharapkan untuk ikut menyukseskannya. Termasuk

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: m nur huda
Tribun Jateng/ Rifqi Gozali
Pementasan monolog guna pengawasan Pemilu 2019. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA – Mendekati digelarnya Pemilu ada berbagai cara bagi Bawaslu untuk mengajak masyarakat mengawasi jalannya pesta demokrasi.

Satu di antaranya yaitu dengan pagelaran monoloh seperti yang dilakukan oleh Bawaslu Jepara.

Senin (25/3/2019) malam di Gedung Kesenian Kabupaten Jepara digelar dua pementasan monolog sekaligus.

Yaitu “Buta Warna Membabi Buta” karya dan sutradara I Gusti Dwi Putra dari Teater Asa UIN Walisongo Semarang dan “Duh!” karya dan sutradara Wikha Setiawan dengan aktor Arif Brojol dari Karang Taruna Dhamar Boemi Desa Telukwetan, Kecamatan Welahan, jepara.

Pementasan ini menyita berbagai elemen masyarakat untuk menyaksikannya. Mulai dari seniman Jepara. komunitas pelajar Jepara, karang taruna dan komunitas seni dari luar daerah.

Ketua Bawaslu Jepara, Sujiantoko mengatakan, Pemilu tinggal sebentar lagi. Seluruh lapisan masyarakat diharapkan untuk ikut menyukseskannya. Termasuk ikut mengawasi.

“Pemilu tinggal sebentar lagi. Kesuksesan ada di tangan masyarakat,” kata dia.

Dia mengatakan, dalam gelaran Pemilu nanti harus berjalan bersih supaya melahirkan pemimpin dan wakil rakyat yang bisa membawa bangsa ini baik ke depannya.

“Jangan sampai ada pelanggaran atu sampai menyebabkan kaos di kehidupan masyarakat,” kata dia.

Dalam gelaran monolog ini, Bawaslu Kabupaten Jepara menekankan pada masyarakat untuk ikut sosialisasikan No Hoaks, No Sara, serta No Money Politic.

"Mari kita bangun Indonesia dengan cara yang baik. Awasi, kalau lihat ada pelanggaran silakan laporkan,” katanya.

Aktor dalam pementasan tersebut, Arif Brojol mengatakan, pementasan yang ditampilkan itu representasi dari reformasi tahun 1998 yang kemudian menyingkirkan penguasa otoriter. Dari itu bangkitlah demokrasi Indonesia.

“Demokrasi kita harus dijaga dengan terlibat pmeilihan secara baik,” katanya.(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved