Sabtu, 2 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Jurnal Serigala Loyola

276 Siswa SMA Kolese Loyola Mentransformasi Hidup di Banyutemumpang

Live in ini mengajak siswa untuk mentransformasi hidup mereka dengan belajar hidup dari keluarga asuh dan dibantu lewat bimbingan guru wali kelasnya.

Tayang:
Editor: abduh imanulhaq
IST
Murid-murid SMA Kolese Loyola Semarang mengikuti kegiatan live in di Banyutemumpang, Magelang. 

TRIBUNJATENG.COM - Sebanyak 276 siswa kelas 10 dan 16 guru wali kelas SMA Kolese Loyola Semarang berangkat menjalani live in di Banyutemumpang, Magelang.

Kegiatan tahunan ini bertemakan Hidup Bermartabat dengan Berbagi Berkat.

Selama lima hari, 11-15 Maret 2019, mereka mengalami tempaan untuk belajar arti kesederhanaan.

Live in ini mengajak siswa untuk mentransformasi hidup mereka dengan belajar hidup dari keluarga asuh dan dibantu lewat bimbingan guru wali kelasnya.

Mereka diajak untuk berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan kerja di keluarga asuh dan sedapat mungkin ikut mengalami keprihatinan, suka duka, dan perasaan di keluarga tersebut.

Harapannya, para peserta live in dapat menjadi men and women for and with others.

Oleh karena itu, mereka dilarang keras membawa HP maupun meminjam HP milik orang tua asuh.

Hal ini dilakukan supaya para siswa secara mendalam dapat melatih dan menanamkan kemandirian serta kepekaan terhadap sesama dan lingkungannya di tempat live in.

Suasana di desa sangat berbeda dengan suasana di kota, terutama mengenai kegiatan sehari–hari.

Para peserta live in yang terbiasa hidup di kota dengan berkecukupan belajar untuk hidup sederhana dan mensyukuri apa yang mereka terima dan alami bersama keluarga asuh.

Pagi hingga siang hari mengalami berladang bersama orangtua, dan malamnya mengobrol ngalor ngidul bersama keluarga di rumah.

Ada yang unik dari live in tahun ini dimana mungkin kebanyakan orang belum pernah mengalaminya.

Kejadian tersebut adalah adanya hujan es disertai angin yang sangat kencang yang membuat warga  serta peserta live in merasa takut sekaligus takjub.

Menurut Ibu Slamet, salah satu warga Desa Gantang, hujan es pernah terjadi, tetapi hujan yang disertai angin kencang lesus tidak pernah terjadi sebelumnya.

Tidak ada korban jiwa, hanya beberapa atap rumah yang rusak.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved