Kamis, 28 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Pemred Tribun Jateng dan Ketua PWI Jateng Jadi Pembedah Buku Dusta Yudistira di Unnes

Pemred Tribun Jateng Cecep Burdansyah dan Ketua PWI Jateng Amir Machmud menjadi pembicara bedah buku Dusta Yudistira.

Tayang:
Penulis: Jamal A. Nashr | Editor: suharno
TRIBUN JATENG/JAMAL A NASHR
Peluncuran dan Bedah Buku Dusta Yudistira di Ruang Sosrokartono Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Unnes, Selasa (9/4/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pemimpin Redaksi Tribun Jateng Cecep Burdansyah dan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jateng Amir Machmud menjadi pembicara bedah buku Dusta Yudistira.

Kegiatan peluncuran sekaligus bedah buku Dusta Yudistira yang dikarang oleh Redaktur Tribun Jateng Achiar M Permana ini dilaksanakan di Ruang Sosrokartono Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Unnes, Selasa (9/4/2019).

Dusta Yudistira berisi kumpulan esai Achiar dalam merefleksikan fenomena mutakhir yang dipadankan kisah pewayangan.

Peristiwa-peristiwa yang diangkat meliputi tentang korupsi, terorisme, keberagaman, kehidupan sosial, dan lainnya.

Buku Dusta Yudistira Karya Achiar M Permana, Otokritik untuk Dunia Pers

Dalam acara tersebut Cecep Burdansyah menilai Achiar M Permana mampu menyampaikan kritik tanpa manghakimi melalui buku Dusta Yudistira.

Cecep mengatakan, sebagai tulisan esai kritik dalam Dusta Yudistira tidak hanya ditujukan kepada pihak lain.

Kritik juga ditujukan pada diri serta dunia penulis. Seperti salah satu tulisan yang menjadi judul buku, Dusta Yudistira.

Dalam tulisan tersebut, Achiar melalukan otokritik untuk dunia media, tempatnya bekerja. Menurutnya, hal ini berbeda dengan tulisan opini yang kritiknya dilontarkan untuk pihak lain.

"Kang Achiar ini tidak menghakimi orang-orang yang dikritik di dalam buku ini. Dia mengkritik bukan saja orang lain. Misalnya, dalam buku ini mengkritik SBY, rumah sakit, politikus tetapi dia juga mengkritik dirinya sendiri termasuk saya," tutur Cecep.

Ia mengakui, saat ini media kerap melakukan kesalahan. Terlebih hadirnya media online yang bertumpu pada aktualitas tidak hanya faktualitas.

Ia mempertanyakan, berita online mampu mencerdaskan masyarakat atau sebaliknya.

"Tapi Kang Achiar ini cara mengkritiknya tidak membuat malu atau kuping orang merah. Kritiknya membuat orang yang dikritik merefleksi. Misalnya dalam tulisan Dusta Yudistira," katanya.

Ia juga menyetujui kritik yang disampaikan Achiar dalam esai berjudul Dusta Yudistira. Hari Pers Nasional (HPN) saat ini hanya sebatas seremonial.

Menurutnya, HPN dapat menjadi momen untuk meneladani tokoh sentral pers di Indonesia, Tirto Adi Soerdjo.

"Ironisnya, hari pers dirayakan dengan seremonial di tengah-tengah intimidasi terhadap sejumlah wartawan yang marak, juga pembunuhan. Dia secara lembut mengkritiknya," katanya.

Bahaya Kaum Milenial Tak Bijak Bermedsos Dibeberkan Diskominfo Karanganyar, Satunya Terkait Hoaks

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved