Faisal Basri: Akal Sehat dan Hati Nurani Membimbing Saya Memilih Jokowi
Ekonom Senior, Faisal Basri memutuskan untuk memilih capres nomor urut 1, Jokowi-Ma'ruf Amin.
Penulis: Ardianti WS | Editor: abduh imanulhaq
"Kalau mengatakan pertumbuhan ekonomi 5,1 jelek, maka itu bukanlah sesuatu porposi yang memadai sebuah kejelakan, padahal itu adalah pencapaian yang luar biasa dalam kondisi inflasi yang sangat rendah, artinya pemerintah bisa memperkuat stabilitas harga dan daya beli masyarakat," ujar Misbahkun.
Misbahkun lantas menyebut bahwa Indonesia adalah negara yang berpenghasilan menengah sehingga dibutuhkan membangun insfraktuktur.
"Jepang, korea, China melakukan itu, dan kini Indonesia jga melakukan hal serupa," ujar Misbahkun.
Misbahkun lantas menyebut bahwa pembangunan insfraktuktur untuk membangun negara ini.
Pembangunan insfraktuktur terkoneksi dengan baik guna logistik cepat sampai di tempat tujuan.
Misbahkun lantas membantah soal pembangunan ngawur.
"Soal pembangunan sudah dilakukan survei dan sebagainya, kajiannya lengkap," ujar Misbakhun.
Soal utang Misbahkun mengatakan pemerintah selalu menjaga rasio antara jumlah utang dengan GDP.
Kemudian, pembawa acara memberikan waktu kepada Faisal Basri untuk memberikan komentar.
Faisal menyebut bahwa keadaan tahun 2018 sama seperti 5 tahun yang lalu.
"Kalau kita lihat 5 tahun yang lalu, hampir sama persis, kita mengalami tekanan global," ujarnya.
Menurut Faisal Basri permasalahan ekonomi tidak diselesaikan di akar masalah, sementara politisi banyak menyelesaikan jangka pendek dan fokus ke pemilu.
Faisal Basri lantas menyebut bahwa tax rasio kini semakin turun.
Faisal Basri lantas membantah pernyataan kMisbakhun yang kurang tepat jika Indonesia dibandingkan dengan negara G-20.
"Kita ini ingin melipur lara diri atau apa, saya kira tidak relevan jika Indonesia dibandingkan dengan negara G-20, negara G-20 pertumbuhan ekonominya dari nol koma sampai 2, bandingkanlah dengan Asean, dan ternyata kita nomor 6, padahal negara Asean cuma 10, kalau mau pelipur lara ya bandingkan saja dengan G-20," ujar Faisal Basri.