Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

DPD Appernas Jaya Jateng Ingin Membantu Masyarakat untuk Memiliki Rumah

Dalam rangka mendukung pemerintah melaksanakan program satu juta rumah, DPD Aliansi Pengembang Perumahan Nasional (Appernas) Jaya Jateng mengadakan mu

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: m nur huda
Tribun Jateng/ Desta Leila Kartika
Ketua DPD Appernas Jaya Provinsi Jateng, Tries Priyambodo, saat memberikan sambutan pada acara Musyawarah Daerah 1 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Appernas Jaya Provinsi Jawa Tengah, di Hotel Aston Inn Pandanaran Semarang, Kamis (2/5/2019).  

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Desta Leila Kartika

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dalam rangka mendukung pemerintah melaksanakan program satu juta rumah, DPD Aliansi Pengembang Perumahan Nasional (Appernas) Jaya Jateng mengadakan musyawarah daerah satu.

Tujuan program ini, menurut Ketua DPD Appernas Jaya Provinsi Jateng, Tries Priyambodo, untuk mensuport program pemerintah karena pihaknya adalah pengembang yang khusus menangani perumahan Subsidi atau FLPP.

Adapun, Appernas Jaya adalah suatu perkumpulan pengembang-pengembang profesional, yang hadir untuk membantu pemerintah dalam melaksanakan program satu juta Rumah.

"Masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) akan kami suport untuk mendapatkan realisasi dari Pemerintah. Terutama bagi PNS, TNI, Polri, dan masyarakat umum yang membutuhkan," ujar Tries Priyambodo, pada Tribunjateng.com, Kamis (2/5/2019).

Di Jateng, lanjutnya, ada beberapa asosiasi yang juga belum bisa mewujudkan program satu juta rumah.

Maka dari itu, pihaknya menggandeng beberapa perbankan untuk bisa melaksanakan atau membantu dalam hal pembiayaan.

Tries menuturkan, harga unit rumah subsidi sekarang ini kisaran Rp 130 juta, namun ada wacana yang menyebut bulan ini akan mengalami kenaikan harga. Jadi semua pengembang stagnan atau berhenti dulu sambil menunggu keputusan.

"Kendala yang terjadi dalam program satu juta rumah ini sangat banyak terutama dari sisi pengembang. Di antaranya seperti pembebasan tanah yang mahal, perizinan dari Pemerintah setempat tidak semulus apa yang diperkirakan, pembiayaan perbankan kadang dipersulit, dan lain-lain," ungkapnya.

Bagi para pengembang, kenaikan Rp 5 juta sampai Rp 10 juta sangat berharga, terutama untuk membiayai konstruksi yang banyak karena tidak hanya membangun satu atau dua unit tapi ratusan bahkan ribuan.

Maka pihaknya berharap, terutama bagi Pemerintah Daerah untuk mempermudah perizinan dan Perbankan juga mau mensuport atau mempermudah pembiayaan. Karena tidak hanya membantu program Pemerintah, tapi juga membantu masyarakat yang ingin memiliki rumah.

"Segmen rumah FLPP ini menyasar masyarakat dengan penghasilan Rp 4 jutaan sampai Rp 8 jutaan. Sehingga mempermudah mereka yang ingin memiliki rumah," tegasnya.

Perlu diketahui, Pengembang di Appernas Jaya ini kebanyakan pengembang kelas tiga, maksudnya adalah tidak memiliki uang dan tidak memiliki tanah, tapi memiliki otak atau kemampuan untuk membuat proyek. (dta)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved