Geliat Pengrajin Beduk dan Rebana Banyumas, Inilah Daftar Harganya
Sejumlah masjid atau surau masih menggunakan beduk sebagai kelengkapan pendukung masuk waktu salat lima waktu.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG.COM -- Samar-samar terdengar dari kejauhan suara mesin penghalus kayu. Debu dan serbuk kayu beterbangan saat terik mentari siang hari. Terlihat seorang pekerja sibuk memotong kayu. Sementara pekerja lain ada yang membentuk kerangka kayu jadi semacam silinder.
Inilah kesibukan para pengrajin beduk Nurul Ikhsan, sebuah industri rumahan di Desa Keniten, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Selama Ramadan ini, kesibukan membuat beduk meningkat drastis karena pesanan membeludak. Jarak lokasi ini sekitar 10km dari Kota Purwokerto atau 20 menit ditempuh naik sepeda motor.
Jika hari biasa dalam sebulan hanya memproduksi 50 beduk, tetapi pembuatan beduk di bulan puasa pesanan sudah sampai 150 unit beduk.
Mungkin inilah yang dinamakan berkah bulan Ramadan. Taufik Amin (42) sang pemilik usaha mengaku cukup kewalahan melayani pesanan beduk saat Ramadan.
"Kami selama bulan puasa justru rela lembur sampai jam 1 malam, karena demi menyelesaikan pesanan-pesanan. Setidaknya 3 pekerja membuat 3 beduk setiap hari," ujar Taufik Amin, Kamis (9/5).
Industri beduk rumahan milik Taufik Amin sudah ada semenjak 1991. Pendiri pertamanya adalah Khoirudin yang merupakan kakak dari Taufik Amin itu sendiri.
Awalnya Taufik hanya fokus membuat rebana. Namun sejak awal tahun 2000an, Taufik dan rekan keluarga yang lain mengembangkan usaha pembuatan beduk untuk masjid.
Dia adalah generasi kedua yang meneruskan usaha keluarganya tersebut. Beduk buatannya menggunakan kayu Trembesi glondongan. Untuk kulitnya sendiri menggunakan kulit sapi agar dapat menghasilkan bunyi bagus. Ada berbagai macam varian ukuran beduk yang dibuat.
Beduk paling kecil berukuran 50 cm dengan panjang 70 cm dijual seharga Rp 3 juta.
Sementara bedug terbesar berukuran diameter 1.5 meter dihargai sampai Rp 45 juta. Beduk kecil berukuran 50 cm bisa dikerjakan dalam sehari.
Sedangkan beduk raksasa berdiameter 1.5 meter dengan panjang 2.5 meter bisa sampai satu bulan pembuatannya.
"Sebenanya yang paling laris beduk berukuran 60 cm, yang harganya Rp 4 jutaan," ungkapnya.
Taufik Amin mempekerjakan 9 orang. Tetapi terkadang tidak semua pekerja datang dan hanya beberapa saja. Saat ini yang datang hanya 4 orang. Ada tiga pekerja yang fokus membuat beduk. Sementara satu pekerja ada yang membuat rebana. Beduk-beduk itu kemudian dikirim ke Tanah Abang Jakarta. Daerah Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap juga pesan beduk ke tempat Taufik. Service rebana Rp 110 ribu.
Untuk pengeringan, Taufik mengandalkan sinar matahari. Makin kering makin bagus dan kuat. Demikian juga catnya awet. Jika musim kemarau pengeringan cukup 3 hari, namun saat ini musim hujan kadang sampai 5 hari untuk mengeringkan.
Pembuatan beduk, diawali dengan pemotongan kayu trembesi glondongan. Dipotong sesuai ukuran pesanan. Kemudian dihaluskan jadi kerangka seperti silinder. Setelah dibentuk jadi beduk, barulah dilapisi dempul dan cat dasar. (TRIBUNJATENG/Permata Putra Sejati)
JEMUR BEDUK - Taufik Amin pengrajin beduk di Desa Keniten, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas sedang menjemur beduk buatannya, Kamis (9/5). Insert - Pekerja sedang membuat dan memproduksi rebana di lokasi yang sama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pengrajin-bedug-banyumas.jpg)