Tren Campur Bahasa Indonesia-Inggris, Cuma untuk Gaya?
Cara berkomunikasi campur bahasa ini tengah menjadi sorotan di media sosial.
Oleh Afi Normawati, M.Pd., Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Nasional Karangturi (UNKARTUR) Semarang
“Weekend kemarin gue ga sengaja ketemu my ex. Dia lagi jalan sama his girlfriend gitu..And I feel like.. you know, nyesek banget!”
MUNGKIN kita sering mendengar gaya percakapan anak milenial tersebut, atau bahkan kita sendiri sering menggunakannya.
Cara komunikasi ini tengah menjadi sorotan di media sosial.
Ada yang berpendapat ini hal yang bagus karena menunjukkan kemampuan multibahasa, ada juga yang mengatakan ini tidak baik karena merusak tatanan bahasa yang baik dan benar.
Lalu bagaimana pandangan Universitas Nasional Karangturi tentang hal ini?
Bagaimana fenomena ini terjadi?
Praktik mencampur bahasa sebenarnya sudah ada sejak dulu dan dipelajari dalam salah satu cabang ilmu bahasa, yakni sosiolinguistik.
Saat berkomunikasi, seorang pembicara mungkin mengalami kesulitan dalam mengungkapkan maksud dan perasaannya.
Jadi agar komunikasi menjadi lebih efektif, dia merasa perlu mencampur dua bahasa (code mixing) dan/atau beralih menggunakan bahasa lain (code switching).
Hal seperti ini bisa saja terjadi terutama dalam dalam masyarakat multilingual, misalnya orang Indonesia, yang bersinggungan dengan beragam bahasa, yaitu bahasa daerah, bahasa nasional (Bahasa Indonesia), dan bahasa asing (terutama Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional).
Alasan milenial memakai bahasa gado-gado
Karena merupakan bahasa global, Bahasa Inggris otomatis menjadi bahasa asing yang paling populer.
Berbagai macam informasi dari seluruh dunia disampaikan dalam bahasa ini.
Jika kita mendengar orang Indonesia berbicara dengan mencampur bahasa kesehariannya dengan bahasa asing, maka Bahasa Inggris lah yang paling sering digunakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/komunikasi-campur-bahasa.jpg)