Di Balik Kisah dan Asal-usul Batu Sajadah di Puncak Girilangan Banjarnegara

Tetapi 'sajadah' di Desa Gumelem Wetan Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara ini sungguh tidak lazim.

Di Balik Kisah dan Asal-usul Batu Sajadah di Puncak Girilangan Banjarnegara
TRIBUN JATENG/KHOIRUL MUZAKI
peziarah mempraktikkan ibadah di atas batu sajadah di bukit Girilangan desa Gumelem Wetan Susukan Banjarnegara 

"Dari dulu sudah ada di situ, tidak pernah dipindah warga,"kata Ketua Pokdarwis Gumelem Satrio

Keyakinan batu itu sebagai alas salat dikuatkan dengan posisinya yang diyakini menghadap arah kiblat. Selain dari cerita turun temurun tentang riwayat Kademangan Gumelem.

Satrio mengatakan, muasal keberadaan batu sajadah berhubungan erat dengan riwayat Ki Ageng Gumelem yang ditugasi untuk menjaga makam Girilangan, sekitar abad ke 16.

Ki Ageng Giring merupakan pembesar dari keluarga kerajaan Mataram yang jasadnya hilang saat tanah untuk meletakkan keranda itu ambles di bukit Girilangan.

Keranda itu kemudian dimakamkan di puncak bukit yang kini dikenal Girilangan (Giri Ilangan).

Raja Mataram kemudian mengutus Ki Ageng Gumelem untuk menjaga tempat hilangnya jasad Ki Ageng Giring itu. Ki Ageng Gumelem pada akhirnya didapuk menjadi Demang di Gumelem.

Menurut Satrio, Ki Ageng Gumelem dan pengikutnya yang setia menjaga makam Ki Ageng Giring inilah yang diyakini membuat tempat ibadah dari batu.

"Itu buat salat penjaganya,"katanya

Pembuatan alas salat dari batu ini pun cukup beralasan. Ibadah salat menjadi kebutuhan bagi umat Islam dimana pun berada.

Sementara di puncak bukit nan tinggi itu, sulit untuk mengakses masjid yang letaknya jauh di pemukiman.

Halaman
123
Penulis: khoirul muzaki
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved