Ubah Stigma Arogan, Klub Motor Gede Brebes dan Tegal Sambangi Panti Asuhan
Melengkapi ladang amal di bulan penuh berkah, Motor Besar Club (MBC) Tegal, menyambangi panti asuhan di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA)
Penulis: m zaenal arifin | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, BREBES - Melengkapi ladang amal di bulan penuh berkah, Motor Besar Club (MBC) Tegal, menyambangi panti asuhan di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Fastabiqul Khairat, Grinting, Bulakamba, Brebes.
Kedatangan para pengendara motor gede dari Tegal, Brebes, Pemalang, dan Slawi itu untuk berbagi dengan anak-anak yatim penghuni panti di Ramadan 1440 H.
Baik itu dalam bentuk uang, maupun peralatan sekolah dan dapur untuk menunjang sarana panti.
Ketua MBC Tegal, Dimas Setiawan mengatakan, kegiatan berbagi kepada sesama menang rutin digelar.
Salah satu tempat tujuan yang menjadi prioritasnya adalah tempat-tempat yang membutuhkan uluran tangan dan belum dikenal khalayak.
"Bukan maksud untuk riya, namun kami ingin banyak orang kemudian menjadi tahu tentang keberadaan panti asuhan yang kami kunjungi.
Dengan dikenal sehingga bisa lebih banyak lagi yang bisa berbagi ke tempat ini," kata Dimas, Senin (27/5/2019).
Dimas mengungkapkan, seperti yang pernah dilakukan MBC di bulan Ramadan tahun lalu, kala itu MBC melakukan touring ke ke Pondok Pesantren Bambu di Desa Kesuben, Lebaksiu Tegal.
Menurutnya, kegiatan tersebut digelar karena ingin menghapus stigma bahwa motor besar itu identik dengan biang pembuat onar di jalan karena memaksa untuk menghentikan kendaraan lain saat melakukan touring.
Dimas menegaskan komunitas motor besar tidak selalu memiliki stigma negatif seperti itu.
Karena itu, ia ingin menunjukan hal positif untuk ditunjukan ke masyarakat.
Kedatangan klub moge itu disambut meriah anak-anak panti asuhan.
Mereka juga sempat menaiki motor gahar dan mengambil foto dengan ponsel.
Ketua Panti Asolihin, Abdulah, mengaku sangat berterima kasih atas kedatangan MBC dan berharap ke depan silaturahmi bisa terjaga.
Panti yang sejak dibentuk tahun 1999 dan selalu berpindah tempat untuk mengontrak, kini sudah memiliki tanah dan bangunan sendiri.
"Ada sekitar 40 anak yatim, piatu, dan duafa putra putri usia SD sampai SMA.
Kebanyakan mereka dari daerah sekitar seperti Wanasari, Larangan, Ketanggungan, Bulakamba, dan Kersana Brebes," imbuhnya. (Nal)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/mbc-tegal.jpg)