KTT Ngudi Rejeki Popongan Karanganyar Ikuti Lomba Tingkat Provinsi
KTT Ngudi Rejeki yang terletak di Kampung Begajah RT 3/7 Kelurahan Popongan Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar.
Penulis: Agus Iswadi | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM, KARANGANYAR - Kelompok Tani Ternak (KTT) dari tiga Kabupaten mengikuti lomba KTT tingkat provinsi pada tahun ini.
Tiga Kabupaten tersebut ialah, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Jepara dan Kabupaten Karanganyar.
Peserta lomba dari Kabupaten Karanganyar diwakili oleh KTT Ngudi Rejeki yang terletak di Kampung Begajah RT 3/7 Kelurahan Popongan Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar.
Sebelumnya Tim penilaian dari provinsi telah melakukan penilaian di KTT yang berasal dari Kabupaten Jepara. Selanjutnya, mereka melakukan penilaian di KTT Ngudi Rejeki sebagai perwakilan dari Karanganyar pada Jumat (14/6/2019).
Ketua Tim Penilaian sekaligus Kepala Balai Budidaya dan Pembibitan Ternak terpadu Kelas A Provinsi Jawa Tengah, Abdullah mengatakan, setelah melakukan evaluasi administrasi terpilih KTT dari 3 kabupaten yakni Kabupaten Jepara, Karanganyar, dan Grobogan. "Penilaian ini sekaligus melihat dan mencocokan, apa yang sudah ditulis dalam profile KTT itu benar apa tidak," katanya.
Selain itu juga untuk memotivasi para peternak sehingga dapat meningkatkan produktivitas. "Hasil akhirnya kesejahteraan peternak meningkat. Mungkin dari hasil ternak belum tentu tinggi, melalui penjualan pupuk yang diolah menjadi padat atau cair bisa mendapatkan untung. Jadi tidak musti dari sapinya," terangnya.
Seusai melakukan penilaian, ia menyampaikan, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki terkait pengolahan pupuk dan kandang ternak. "Penglolaan pupuk agar lebih bisa dimanfaatkan menjadi pupuk cair. jadi lebih bernilai. Sementara masih ditampung. Kalau diolah lebih tinggi. Ini sifatnya kan pembinaan. Jadi kelompok ada kurang dan lebih. Tapi sudah menerapkan prinsip agrobisnis. Membibitkan ternak yang benilai jual tinggi. Masukan lain pembibitan lebih fokus ke sapi putih. Secara umum lebih mudah reproduksi," tuturnya.
"Kandang lebih diperbaiki agar mempermudah pengelolaan kotoran. Masih numpuk walaupun tidak bau. Akan lebih bagus kalau model kandang tertata. Pupuk mudah diangkut," lanjutnya.
Ketua KTT Ngudi Rejeki, Abdullah Slamet mengatakan, KTT Ngudi Rejeki mulai beroperasi sejak 2013 dan ada sejumlah 28 anggota. Adapun aset yang dikelola berasal dari hibah APBN tahun 2013 sebanyak 25 ekor sapi dan dari APBD tahun 2014 sebesar Rp 30 juta. "Totalnya ada 28 ekor. Hibah dari APBD dibelikan sapi sebanyak 3 ekor ditambah 25 ekor dari hibah APBN," terangnya.
Ia menambahkan, populasi ternak dari tahun 2016-2018 dari kepemilikan anggota KTT Ngudi Rejeki mengalami peningkaktan.
"Tahun 2016 ada sebanyak 67 ekor, rata-rata kepemilikan tiap anggota 2-3 ekor. Pada 2017, ada 89 ekor, rata-rata kepemilikan 3-4 ekor. Dan 2018 ada 101 ekor, rata-rata 3-5 ekor," ungkapnya.
Sementara itu Bupati Karanganyar, Juliyatmono mengungkapkan, di Karanganyar itu potensial soal peternakan, baik itu peternakan sapi, kambing, dan ayam.
"Itu cukup besar populasinya di Jateng. Akan terus kita kembangkan. Sehingga model KTT bisa tumbuh di berbagai titik. Begitu juga soal limbah supaya tidak mencemari. Mengolah memanfaatkan apapun, bio gas bisa untuk lingkungan sekitra dan kita latih untuk pengolahan energi listrik," paparnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/bupati-karanganyar-juliyatmono-beserta-rombongan-tim-penilaian.jpg)