Pembangunan Pasar Banjarsari Pekalongan Butuh Bantuan Pemerintah Pusat
Belum terealisasinya pembangunan Pasar Banjarsari yang terbakar pada Februari 2018 lalu, menyebabkan para pedagang tak bisa lagi berdagang.
Penulis: budi susanto | Editor: deni setiawan
TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Belum terealisasinya pembangunan Pasar Banjarsari yang terbakar pada Februari 2018 lalu, menyebabkan para pedagang tak bisa lagi berdagang.
Bahkan para pedagang terpaksa gulung tikar karena lapak mereka hangus dilalap api.
Meskipun sudah disediakan tempat berdagang sementara di dua pasar darurat, namun beberapa pedagang memilih tak menempati lapak.
Hal tersebut membuat jumlah pengangguran di Kota Pekalongan bertambah.
Aminah (55) satu di antaranya.
Dia terpaksa menganggur di rumah karena lapaknya di Pasar Banjarsari terbakar.
“Kalau disuruh ke pasar darurat saya tidak mau, karena kondisinya bikin pegal untuk mengatur barang dagangan. Sudah sempit juga sering banjir,” tuturnya, Rabu (19/6/2019).
Keinginan wanita asal Pekalongan Barat itu hanya satu, yaitu menempati kembali Pasar Banjarsari.
“Tidak hanya saya, pasti pedagang lainnya juga ingin menempati Pasar Banjarsari kembali,” paparnya.
Terpisah, Wali Kota Pekalongan Saelany Mahfud mengakui terbakarnya Pasar Banjarsari menambah jumlah pengangguran di Kota Pekalongan.
“Kami akui pengangguran bertambah karena Pasar Banjarsari terbakar. Kami ingin segera membangunnya namun terkendala pendanaan,” ujarnya.
Ia menambahkan, baru ada dana Rp 13 miliar dari APBD Kota Pekalongan dan Bantuan Keuangan (Bankeu) Provinsi Jawa Tengah.
“Dengan dana yang ada, kami akan lakukan pembangunan secara bertahap, sembari menunggu pengesahan bantuan dari Pemerintah Pusat,” tambahnya. (Budi Susanto)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/bangun-pasar-banjarsari-pekalongan-ditunda.jpg)