Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Pisang Plenet Kuliner Legendaris di Semarang, Subandi Tetap Pertahankan Otentik Rasa

"Iki jenenge Pisang Plenet. Gawene diplenet-plenet, dipenyet," katanya, Sabtu (22/6/2019) malam.

Penulis: Saiful Ma sum | Editor: galih permadi
TRIBUN JATENG/SAIFUL MA'SUM
Pisang Plenet Subandi Legendaris di Semarang 

Semua racikan hingga bahan-bahannya pun masih dibuat sama persis dengan yang dirintis sang kakek.

Satu porsinya yang terdiri dari 4 biji pisang kepok atau 4 tangkep pisang lengkap dengan isian dibungkus daun pisang dibandrol Rp 12 ribu teruntuk semua jenis isian. Berlaku juga bagi setengah porsi dengan harga setengahnya.

Tribun Jateng mencoba menanyakan, kenapa harus pakai pisang kepok dan juga daun pisang?

Jawab Subandi, itulah ciri khas dari pisang plenet. Dua jenis tersebut bukan tanpa maksud, katanya, pisang kepok yang dibungkus dengan daun pisang menghasilkan rasa nikmat yang bisa jadi membuat orang ketagihan.

Dan memang benar, rasa manis pisang ketika menyentuh lidah khas bau daun pisang nampaknya dapat mengingatkan jajanan tempo dulu.

Kenapa tidak, jajanan pisang plenet tanpa sedikitpun tersentuh pemanis buatan ataupun pengawet makanan. Hanya sebuah pisang yang dibakar kemudian di pipihkan dan dikasih sedikit isian langsung bisa dimakan.

Manisnya bukan main, cobain saja.

"Awet biyek yo isine koyo kui. Ora tak ubah-ubah ninggali jaman semono. La tak kai coklat (seres) go pantes-pentes ben rodo koyo wong saiki, biyek yo rak ono," kata Subandi.

Setiap harinya, Subandi biasa mangkal di Jalan Pemuda dari pukul 14.00 - 24.00 WIB. Terkadang ia berangkat lebih sore dan pulang lebih awal mengingat kondisi kesehatan dan ramai sepinya pembeli.

Dalam rata-rata perhari, Subandi mampu menjualkan pisangnya hingga 8 - 12 lirang. Tiap satu lirangnya berisikan 12-14 biji.

Ia juga menyebutkan dalam momen-momen tertentu seperti lebaran hingga tahun baru, dirinya mampu menghabiskan 30 lirang dalam sehari. Hal tersebut mengingat naiknya jumlah pembeli yang juga diikuti oleh jumlah pesanan.

"Nek penghasilan ora ngitung. Kabeh tak pasrahke ning mbok wedok, mung iso ngoro-ngiro enteke semono. Mbok wedok sing blonjo meneh. Paling akeh yo kui mau iso 30 lirang, kui mergo sing tuku biasane 5, 10 dadi 20, 30," jelas Subandi.

Kini, Subandi ingin terus meneruskan bisnis warisan darisang kakek selagi masih sehat. Ia juga sudah mengajak anak dan ponakannya untuk ikut serta menjajakan pisang plenet di Semarang.

Tercatat total 5 tempat pisang plenet dijajakkan. Satu titik di Jalan Gajahmada, 2 titik di Semawis Pecinan, dan 2 titik di Jalan Pemuda.

"Pisang plenet onone mung ning Semarang. Sekeluarga sing dodolan. Saiki gerek limo, maune 12," pungkas Subandi. (Sam)

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved