Mahasiswa Undip Semarang Sulap Limbah Darah di RPH Jadi Pupuk Organik
Limbah darah RPH (Rumah Potong Hewan) Ambarawa tengah menjadi perbincangan hangat sejak beberapa tahun lalu.
Penulis: Saiful Ma sum | Editor: muh radlis
TRUBUNJATENG.COM, SEMARANG - Limbah darah RPH (Rumah Potong Hewan) Ambarawa tengah menjadi
perbincangan hangat sejak beberapa tahun lalu.
Hal ini terjadi lantaran limbah RPH dapat mencemari sumber air yang berada di dekatnya, yakni Sungai Pentung.
Tercemarnya air sungai dapat mengganggu rutinitas warga sekitar yang biasanya dapat digunakan untuk mencuci baju, mandi hingga mengairi tanaman kini justru dihindari karena menyebabkan gatal dan berbau busuk.
Namun tak kunjung ada tindakan dan perubahan, sekelompok mahasiswa Universitas Diponegoro pun berupaya mencari solusi sebagai usaha meminimalisir gangguan yang ada.
Kelompok tersebut terdiri dari Kartika Pertiwi (20) mahasiswi prodi Teknik Lingkungan 2017, Farkhan Atoillah (20) prodi Tenik Industri 2017, Retno Wulansari (22) prodi Teknik Lingkungan 2015, Nurullah (19) prodi Teknik Lingkungan 2017, dan Irsyad Amrullah (19) prodi Teknik Lingkungan 2017 melakukan kunjungan ke Kelurahan Kupang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang yang mana warga setempat berprofesi sebagai petani.
Mereka mencoba menggagas sebuah pemanfaatan limbah RPH agar menjadi pupun organik.
Ketua kelompok, Kartika Pertiwi mengatakan, sebelumnya ia dan anggota kelompok lainnya berupaya menemukan cara untuk mengatasi dampak bahaya limbah RPH pada beberapa penelitian dan jurnal.
Pihaknya berharap menemukan sebuah cara untuk mengubah kandungan nutrisi limbah yang berbahaya menjadi sarana kebutuhan penyuburan tanaman.
"Ternyata kandungan limbah RPH ini bisa digunakan untuk membuat pupuk dengan metode fermentasi melibatkan campuran bahan lain yang mudah dijumpai di Ambarawa.
Bahan pembuatanya pun mudah dan murah, prosesnya gampang untuk dilakukan, dan analisa kami masyarakat mudah mempraktekannya," jelas Kartika, Senin (1/7/2019).
Lebih lanjut, kelima mahasiswa tersebut menyelenggarakan pelatihan pengolahan limbah RPH guna menjadi pupuk di Dusun Kupang Rejo.
Pelatihan tersebut diharapkan dapat menghasilkan pupuk yang lebih ramah lingkungan sebagai pengganti pupuk kimia yang dipakai kebanyakan masyarakat.
Pupuk jenis kimia dapat berdampak buruk bagi perkembangan reproduksi dan kontur tanah.
"Penggunaan pupuk kimia secara terus menerus bisa jadi turunnya tingkat kesuburan tanah otomatis produktivitas hasil tanaman juga turun di masa yang akan datang," terang Kartika.
Pupuk organik hasil pelatihan pengolahan limbah RPH diharapkan juga meningkatkan keuntungan para petani setempat dengan menekan biaya pengeluaran dari perawatan tanaman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/limbah-olahan.jpg)