Musim Kemarau, Ganjar Pastikan Waduk Delingan Karanganyar Masih Normal

Memasuki musim kemarau pada bulan ini, Waduk Delingan yang terletak di Gedong Kelurahan Karanganyar Kecamatan Karanganyar belum terdampak

Musim Kemarau, Ganjar Pastikan Waduk Delingan Karanganyar Masih Normal
Tribun Jateng/ Agus Iswadi
Tampak warga sekitar melintas mengendarai sepeda motor di sebagian lahan kering yang ada di dasar waduk Delingan Karanganyar. 

TRIBUNJATENG.COM, KARANGANYAR - Memasuki musim kemarau pada bulan ini, Waduk Delingan yang terletak di Gedong Kelurahan Karanganyar Kecamatan Karanganyar belum terdampak atau masih dalam status normal.

Petugas Operasi Bendungan Delingan, Ganjar Janati mengatakan, meskipun mengalami penyusutan derastis medio Mei-Juni, elevasi muka air masih berstatus normal.

"Elevasi normalnya 232,40 meter. Hingga pagi ini 225,74 meter. Kalau minimalnya 222,90 meter," katanya kepada Tribunjateng.com, Rabu (3/7/2019).

Adapun waduk Delingan berfungsi sebagai irigasi persawahan di Daerah Irigasi (DI) Jetu dan Sokolencong.

"Aliran irigasi seluas 1.850 hektare, Debit air 550 liter perdetik," terang Ganjar.

Sementara itu, volume air dalam kondisi normal di waduk delingan yakni 4 juta meter kubik.

Ganjar menjelaskan, untuk saat ini volume air menyusut menjadi sekitar 500 ribu meter kubik.

"Faktor utama penyusutan yakni musim hujan yang terlambat dan hujan yang sebentar. Terakhir hujan itu pada Mei," ungkapnya.

Selain faktor curah hujan, penyusutan juga diakibatkan pompanisasi dari hulu sungai yang menjadi suplay kumpul sungai di waduk Delingan.

"Pompanisasi tidak terlalu berpengaruh, pengaruh utamanya yakni curah hujan. Jadi aliran air dari sungai kumpul sudah berkurang sebelum masuk waduk, karena pompanisasi," paparnya.

Ganjar menuturkan, guna menjaga aliran irigasi pada musim kemarau, yang terpenting ialah menjaga batas minimal elevasi muka air.

"Tugas kami menjaga batas minimal elevasi muka air minimal 222, 90," paparnya.

Dari pantauan Tribunjateng.com, dasar waduk yang tidak tergenang air justru dimanfaatkan sejumlah warga setempat untuk bercocok tanam seperti Padi, kacang, singkong, dan ketela.

Beberapa warga tampak mengendarai sepeda motor untuk dapat mengakses lahan kering yang digunakan sebagai lahan bercocok tanam.(*)

Penulis: Agus Iswadi
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved