Kisah Bimo Remaja Obesitas dengan Berat Badan 250 Kg di RSUP Dr Kariadi Semarang
Sejak SD berat badan Bimo terus tumbuh cepat hingga kini jadi obesitas. Saat ini kakinya bengkak dan terasa sakit untuk berjalan, bahkan tak kuat berd
Penulis: hermawan Endra | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Sejak SD berat badan Bimo terus tumbuh cepat hingga kini jadi obesitas.
Saat ini kakinya bengkak dan terasa sakit untuk berjalan, bahkan tak kuat berdiri lama.
Nafas tersengal-sengal saat Bimo bercerita tentang kondisi tubuh obesitas yang dialaminya.
Remaja bernama lengkap Bimo Putro Prakoso (22) ini hanya duduk di dipan rawat inap Gedung Rajawali Instalasi R, IB2 RSUP Dr Kariadi Semarang, Selasa (9/7) sore.
Tubuhnya tak bisa leluasa bergerak karena obesitas yang dialami.
Sudah hampir satu minggu anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Wiwik Widowati dan almarhum Bibit Muchtaroh ini mendapat perawatan di RSUP Dr Kariadi Semarang.
Sang ibu terlihat menemaninya berbaring pada sebuah tikar di samping dipan.
Kepada Tribun Jateng, Bimo anak warga Rejosari 8 No 2, RT7 RW10 Kelurahan Rejosari, Semarang Timur ini tampak sesak nafas menceritakan perihal tubuhnya, hingga kemudian dirawat di rumah sakit ini.
Dia menyebut mengalami selulitis, yaitu bengkak pada bagian kaki yang menyebabkan kulit terasa sakit saat ditekan atau dipakai jalan.
Ia mengira infeksi selulitis tersebut disebabkan karena obesitas yang dideritanya semakin bertambah parah.
Berat badannya kini diperkirakan lebih dari 250 kilogram.
"Nggak ada yang bisa nimbang di rumah, terakhir nimbang 250 kg," Imbuhnya.
Bimo Putro Prakoso mengaku mulai mengalami peningkatan nafsu makan sejak khitan yaitu ketika SD.
Pada saat kelas satu SMP berat badannya sudah mencapai 90 kilogram.
Makanan favoritnya adalah nasi goreng atau nasi ruwet atau nasi campur mi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/bimo-obesitas.jpg)