Ikan Asin, Penemuan Yang Mengubah Dunia
Sejak ribuan tahun, manusia melakukan pengawetan makanan untuk memastikan kebutuhan mereka tercukupi
Kedua metode itu sama-sama menggunakan memanfaatkan sifat garam.
Sebagai informasi, garam akan mengeluarkan kelembapan dari makanan.
Sedangkan, seperti yang kita tahu, bakteri sangat suka tempat lembap.
Karena kelembapan berkurang, maka bakteri penyebab pembusukan akan lebih sulit hidup.
Selain itu, garam memiliki sifat hipertonik.
Sel yang hidup di lingkungan hipertonik akan mengalami dehidrasi melalui osmosis dan mati atau tidak aktif.
Berkat proses pengasinan ini, orang Eropa pada Abad Pertengahan berhasil menemukan dunia baru.
Dengan makanan yang diawetkan, mereka bisa berlayar selama berbulan-bulan di tengah lautan.
Ikan Hidup di Laut, Kok Harus Diasinkan?
Tapi, mungkin yang jadi pertanyaan lain, bagaimana ikan yang hidup di laut tetap harus diasinkan agar bisa awet?
Faktanya, sebagian besar bakteri baru akan mati atau tidak aktif dalam kadar garam lebih dari 10 persen.
Sedangkan, air laut hanya mengandung 3,5 persen garam.
Dengan kata lain, makanan baru bisa awet dalam kadar garam 3 kali lipat dari air laut. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Penemuan yang Mengubah Dunia: Ikan Asin, Bantu Eropa Temukan "Dunia Baru"
• Indonesia Vs Thailand : Simon McMenemy Optimistis Timnas Menang Hari Ini
• Ini Foto-foto Luna Maya Berpenampilan Jadul di Acara New York Fashion Week 2019
• Misteri Tanah Tak Bertuan di Purbalingga Jawa Tengah, Pernah Jadi Tempat Ziarah Pelanggan Togel
• Kebakaran Markas Slank : Damkar Pancoran Pastikan Toko Merchandise Slank Aman
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/gelombang-tinggi-produksi-ikan-asin-di-jepara-menurun_20150702_225958.jpg)