Tembakau Gorila Beredar di Tegal, Pelaku Memasarkan Lewat Aplikasi Line

Tembakau sintetis atau biasa dikenal sebagai tembakau gorila sudah menyebar ke Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Tembakau Gorila Beredar di Tegal, Pelaku Memasarkan Lewat Aplikasi Line
Tribunjateng/gum
Salah satu pengedar Tembakau Gorila menunjukan barang bukti di¬†Mapolres Tegal, Senin (15/7/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Tembakau sintetis atau biasa dikenal sebagai tembakau gorila sudah menyebar ke Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Tembakau yang masuk kategori narkotika golongan satu ini diketahui memiliki efek lebih parah ketimbang ganja.

Namun, para pengedar tembakau gorila di Kabupaten Tegal ini akhirnya tertangkap oleh jajaran Satresnarkoba Polres Tegal.

Para pengedar itu adalah Doni Marantika (25), warga Kelurahan Procot, Kecamatan Slawi, dan Harun Al Rasyid (24), warga Desa Balapulang Wetan, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal.

Modusnya, kedua pengedar ini memanfaatkan aplikasi chat instan Line untuk memasarkan tembakau gorila kepada para pemasan.

Kapolres Tegal AKBP Dwi Agus Prianto melalui Kasatresnarkoba, AKP Djunaidi mengatakan, penangkapan pelaku bermula saat pihaknya mengamankan Doni pada Rabu (10/7/2019) lalu.

Berbekal informasi dari Doni, pihaknya kemudian melakukan penyelidikan hingga menangkap Harun pada Kamis (11/7/2019) lalu di kediamannya.

"Doni ditangkap di Procot, sedangkan Harun di Balapulang. Harun adalah pengirim tembakau gorila untuk Doni. Harun mendapatkan barang haram itu dari Jawa Barat," jelas AKP Djunaidi kepada Tribunjateng.com, Senin (15/7/2019).

Dari tangan kedua tersangka, Djunaidi mengamankan tiga paket hemat tembakau gorila yang masing-masingnya dijual seharga Rp 250 ribu.

Per paketnya, kata dia, masing-masing memiliki bobot seberat 1.3 gram tembakau gorila.

Selain itu, pihaknya pun mengamankan satu linting rokok yang berisikan tembakau gorila.

"Ini efeknya lebih parah, bisa bikin pingsan kalau dihisapnya tidak dicampur dengan tembakau kretek. Barang ini masuk Tegal lewat Harun dengan menggunakan jasa ekspedisi (paket pengiriman)," jelasnya.

Dari pengembangan pihaknya, Harun diketahui membeli sebanyak 20 gram tembakau gorila dengan harga Rp 2 juta.

"Kemudian, sebagian tembakau itu dipakai pelaku dan sisanya dijual. Barang yang dijual dicampur dengan tembakau kretek biasa. Mereka ini sudah mengedarkan barang haram ini sejak dua bulan lalu," sambung Kasatresnarkoba.

Atas kasus ini, para pelaku dijerat dengan Pasal 114 ayat (1) subs Pasal 112 (1) UU RI no 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. (Tribunjateng/gum).

Penulis: Akhtur Gumilang
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved