Selasa, 14 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Telah Ciptakan 800 Lagu, Kiprah Didi Kempot Dijuluki Bapak Patah Hati Nasional

Sejumlah musisi kondang Indonesia bisa bertahan hingga beberapa dekade punya penggemar setia. Satu di antaranya adalah Didi Kempot

Tribun Jateng/Dok)
Tanjung Emas: Penyanyi campur sari legendaris, Didi Kempot membawakan lagu Tanjung Emas Ninggal Janji pada perayaan HUT ke 50 Kompas Gramedia pada acara Banjir Kanal Barat (BKB) Festival 2013 di area Bendungan Pleret BKB, Simongan, Kota Semarang, Jateng, Sabtu (7/9/2013) malam. Didi Kempot membawakan enam lagu legendarisnya untuk menghibur 25.000 lebih penonton dari berbagai daerah. Event yang diselenggarakan di tengah sungai BKB merupakan kali pertama sejak dilakukan normalisasi sungai tersebut. 

TRIBUNJATENG.COM -- Sejumlah musisi kondang Indonesia bisa bertahan hingga beberapa dekade punya penggemar setia. Satu di antaranya adalah Didi Kempot yang kini juga digemari kaum milenial.

Nama penyanyi campursari Didi Kempot tak asing di telinga masyarakat Indonesia. Pria asal kota Solo ini bahkan mendapat julukan Bapak Patah Hati Nasional atau The Godfather of Broken Heart karena lagu-lagunya yang mayoritas bertema patah hati.

Didi Kempot yang bernama asli Didi Prasetyo lahir di Solo 31 Desember 1966 dikenal sebagai penyanyi campursari. Banyak lagunya populer di kalangan masyarakat Jawa dan Indonesia umumnya, bahkan di Suriname antara lain berjudul Cidro, Sewu Kutho, Stasiun Balapan dan Suket Teki.

Putra mendiang pelawak Ranto Edi Gudel, yang sekaligus adik kandung almarhum pelawak Mamiek Podang ini sebagai penyanyi campursari lawas namun justru makin terkenal di era milenial. Tembang-tembangnya makin disukai anak muda.

Melansir tayangan Ngobam (Ngobrol Bareng Musisi) di kanal Youtube Gofar Hilman, penyanyi berambut gondrong dan sering mengenakan blangkon (iket) beskapan lengkap itu rupanya sudah menciptakan sekitar 700-800an lagu.

"Total semua lagu ada berapa mas Didi?" tanya Gofar Hilman seperti dikutip Grid.ID dari video yang dipublikasikan pada Minggu (21/7/2019). "Wah lali aku (lupa saya), yah mungkin ada 700 sampai 800 lagu," ungkap Didi Kempot.

Pernyataan itu langsung disambut tepuk tangan dan sorak meriah dari sekitar 1.500 sadboi dan sadgirl yang tergabung dalam Sobat Ambyar, sebutan untuk penggemar Didi Kempot.

Kenapa ada nama Kempot di belakang Didi? Mungkin sebagian orang masih belum mengetahuinya. Dia mengawali karier sebagai musisi jalanan. Kempot itu singkatan dari Kelompok Pengamen Trotoar.

"Kelompok Pengamen Trotoar. Ngamen di jalanan. Sebelum kenal rekaman, saya ngamen di Keprabon dulu pertama kali. Di Solo ada warung lesehan nasi liwet di Keprabon. Habis itu kita hijrah ke Jakarta coba-coba adu nasib. Kumpul di Bundaran Slipi dulu.

Di situlah kita buat komunitas, dan timbulah Kelompok Pengamen Trotoar (Kempot)," terang Didi Kempot.

Hidup di ibu kota memang tidak mudah, bersama rekan-rekannya Didi berjuang untuk dapat masuk dapur rekaman. Bahkan saat itu ia menulis dan merekam sendiri lagu-lagu ciptaannya.

Saat disinggung mengapa banyak menuliskan lagu bertema patah hati dan kehilangan, Didi menjelaskan bahwa itu merupakan tema paling dekat dengan masyarakat.

"Saya pilih tema lagu yang deket dengan masyarakat kita. Patah hati juga semua pasti pernah mengalami," ujarnya. "Kata-kata yang dipilih juga pastinya yang mudah dipahami," terang Didi Kempot yang juga punya banyak lagi tentang potensi wisata dan ikon daerah-daerah di Indonesia itu.

Tak dipungkiri tembang Didi Kempot bisa diterima kawula muda. Terbukti dari beberapa video dibanjiri penonton anak-anak muda dan turut nembang.

"Dek opo salah awakku iki. Kowe nganti tego mblenjani janji. Opo mergo kahanan uripku iki. Mlarat bondo seje karo uripmu. Aku nelongso mergo kebacut tresno, ora ngiro saikine cidro.”

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved